Mengembalikan Budaya Mengadu Hanya Kepada Allah SWT
- 27 Apr 2026 07:52 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Fenomena venting culture atau budaya curhat di media sosial kini telah menjadi tren yang memprihatinkan bagi masyarakat modern. Kebiasaan mengumbar masalah pribadi secara bebas di platform digital telah melenyapkan batas privasi yang seharusnya dijaga dengan rapat.
Maraknya penggunaan platform seperti Facebook, Instagram, hingga Twitter membuat banyak orang merasa sangat leluasa menceritakan segala bentuk kesedihan. Padahal, tindakan mengadukan beban hidup kepada khalayak umum di dunia maya justru berisiko menimbulkan fitnah dan dosa yang besar.
Menanggapi fenomena tersebut, pesan penting disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Suhada. Ia membahas mengenai urgensi kembali kepada ajaran Islam dalam menghadapi setiap ujian kehidupan yang datang.
“Islam sebenarnya telah memberikan tuntunan yang sangat indah bagi setiap muslim untuk senantiasa mengadukan segala persoalan hanya kepada Allah,” ujarnya pada Jumat, 24 April 2026 pagi. Dalam tausiahnya dalam acara Renungan Religi Pro 2 RRI Atambua itu, ia juga membagikan dasar dalil pendukung ucapannya.
Rujukan utama tersebut adalah kisah Nabi Yaqub AS yang tertuang secara jelas di dalam Al-Qur'an Surat Yusuf. Ia menyebut, hanya kepada Allah tempat terbaik untuk mengadukan segala kesusahan dan kesedihan yang sedang kita alami.
“Meskipun Islam tidak melarang seseorang berbagi perasaan dengan sesama manusia, namun ada batasan syariat yang penting diperhatikan,” katanya. “Curhat kepada orang lain diperbolehkan selama orang tersebut amanah dan mampu memberikan solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi.”
Rasulullah SAW juga telah memperingatkan, mengadu hanya kepada manusia tidak akan pernah bisa menghilangkan musibah yang sedang menimpa. Sebaliknya, ketergantungan kuat kepada Allah SWT akan mendatangkan pertolongan serta jalan keluar yang pasti dari setiap masalah berat.
“Budaya meluapkan emosi atau venting di media sosial harus segera dibatasi agar tidak menjerumuskan pada perilaku membuka aib,” ujar Suhada. “Mari kita mulai membiasakan diri lebih banyak bersimpuh di hadapan Allah saat sedang merasa kecewa maupun marah.”
Selain saat berduka, lanjutnya, setiap momen kebahagiaan harus dikembalikan kepada Allah SWT melalui rasa syukur yang tulus. “Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu menjaga lisan, hati, serta perilaku di tengah arus digital,” ucapnya seraya mendoakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....