Menjaga Kedekatan Emosional kepada Orang Tua di Era Modern
- 30 Apr 2026 17:47 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Belu, Ina Padu Iho, menyampaikan pesan menyentuh pentingnya menjaga silaturahmi dengan orang tua. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk merenungkan kembali sejauh mana kualitas komunikasi yang telah dibangun bersama ayah dan ibu.
Dalam tausiahnya, Ina menyoroti fenomena sosial di mana anak sering kali merasa asing meski tinggal di rumah sama. Pintu kamar yang tertutup rapat menjadi simbol pembatas komunikasi antara anak yang sibuk dengan orang tua yang merindu.
"Kita sering kali sibuk dengan dunia sendiri sehingga menjawab pertanyaan ibu hanya dengan sepatah kata tanpa menatap wajahnya," ucap Ina. Perilaku tersebut tanpa disadari dapat melukai perasaan orang tua yang sebenarnya hanya ingin mendengar cerita keseharian anak mereka.
Ia juga menyinggung kebiasaan anak yang lebih memprioritaskan teman dibandingkan orang tua sendiri dalam berbagi cerita hidup. Padahal, saat kita masih kecil dan terluka, orang tualah yang menjadi garda terdepan untuk menghapus tetesan air mata.
Ina menambahkan, banyak orang yang membiarkan telepon dari orang tua berdering tanpa keinginan untuk segera mengangkat suara tersebut. Mereka lebih memilih menunda percakapan padahal orang tua di seberang sana mungkin sedang sangat berharap mendapatkan kabar anaknya.

Dalam Al-Qur'an, Ina menjelaskan Allah SWT melarang hamba-Nya berkata kasar atau sekadar mengucap kata "ah" kepada orang tua. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Isra ayat 23 yang memerintahkan manusia untuk senantiasa berkata mulia.
"Bahkan kata 'ah' saja tidak diperbolehkan, lalu bagaimana dengan nada tinggi atau pesan singkat yang sengaja tidak dibalas?" ujarnya bertanya. Ia mengingatkan bahwa setiap perlakuan buruk atau pengabaian akan meninggalkan bekas luka mendalam di dalam batin orang tua.
Narasi tausiah kemudian dilanjutkan peringatan keras mengenai kematian yang bisa memisahkan seorang anak dengan orang tua secara tiba-tiba. "Penyesalan terdalam biasanya baru muncul ketika rumah sudah terasa sepi karena sosok ibu dan ayah telah tiada selamanya," katanya.
Ina menegaskan, doa di atas pusara tidak akan bisa menggantikan pelukan hangat yang seharusnya diberikan saat mereka hidup. Maka dari itu, mumpung waktu masih tersedia, setiap anak diharapkan segera meminta maaf atas kekhilafan yang pernah diperbuat.
Sebagai penutup, Ina Padu Iho mengajak pendengar melakukan aksi nyata dengan mendekap, memegang tangan orang tua penuh cinta. Ungkapan terima kasih tulus baginya merupakan kado terindah yang bisa diberikan seorang anak kepada pahlawan tanpa tanda jasa.
"Mendekatlah kepada mereka, pegang tangannya, peluklah," ucap Ina. "Sampaikan rasa sayang sebelum waktu memisahkan kita semua dalam ruang yang sunyi."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....