Renungan Islam: Menjaga Lisan dari Bahaya Perundungan

  • 30 Apr 2026 05:50 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Fenomena perundungan (bullying) sering kali dianggap sebagai candaan ringan padahal dampaknya sangat merusak jiwa dan melukai hati. Rasulullah memberikan peringatan keras bahwa lisan manusia bisa menjadi penyebab utama seseorang tergelincir ke dalam lubang dosa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa manusia diciptakan dalam bentuk fisik yang sangat sempurna dan mulia. Menghina fisik seseorang berarti kita merendahkan ciptaan Allah yang telah disebut sebagai sebaik-baiknya bentuk oleh Sang Maha Pencipta.

Seperti disampaikan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Winda Aulia Rahmarini dalam renungan Pro 2 RRI Atambua. "Sungguh, Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," ujarnya, mengutip dasar dari Al-Qur'an Surat At-Tin ayat 4 pada Kamis, 30 April 2026.

Ia mengatakan, banyak orang terlihat tersenyum lebar di hadapan kita namun sebenarnya sedang menyimpan luka batin sangat hebat. "Sering kali luka paling menyakitkan justru berasal dari ucapan lisan yang tidak sengaja merendahkan martabat sesama," kata Winda.

Winda mengungkapkan kisah Abdullah bin Mas'ud mengajarkan: ukuran fisik manusia bukanlah standar utama kemuliaan di hadapan Allah SWT. Meskipun fisiknya terlihat kecil namun timbangan amalnya di akhirat kelak akan jauh lebih berat daripada kemegahan Gunung Uhud.

Winda kembali mengungkapkan dasar ucapannya lewat Hadits Riwayat Ahmad. "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu lebih berat timbangannya daripada Gunung Uhud," ujarnya, menyebut bunyi hadits tersebut.

" Janganlah kita mengukur nilai seorang manusia hanya melalui pandangan mata karena Allah menilai tingkat ketakwaan dan keimanan," katanya. "Penilaian manusia terhadap fisik bersifat sangat semu sedangkan penilaian Allah terhadap amal ibadah bersifat sangat abadi."

Para ulama memberikan peringatan bahwa tawa yang bersifat menghina merupakan salah satu bentuk dosa besar sangat berbahaya. "Kita harus sangat berhati-hati menjaga ucapan karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban angat berat pada hari kiamat," ujar Winda.

Apabila belum mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain maka setidaknya jangan menjadi penyebab munculnya kesedihan bagi mereka. Jika mulut tidak bisa memberikan pujian yang tulus maka pilihan yang paling bijak adalah tetap diam demi menjaga kedamaian.

Terkait hal itu, Winda kembali mengutip bunyi hadits pendukung yang diriwayatkan oleh Bukhari. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam," ujarnya sesuai bunyi hadits.

" Satu kata yang baik dapat mengangkat derajat seseorang namun satu kata buruk dapat menghancurkan kehormatan manusia dalam sekejap," katanya. Winda pun mengajak umat Muslim dan para pendengar untuk memiliki akhlak baik seraya mendoakan agar Allah selalu membimbing.

"Mari kita bersihkan hati dari sifat merendahkan sesama agar menjadi hamba yang memiliki akhlak mulia dan dicintai," ucapnya. "Semoga Allah membimbing lisan kita untuk berucap lembut serta mengisi hati kita dengan kasih sayang kepada seluruh makhluk."

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....