Dua Sifat Mulia yang Dicintai Allah SWT

  • 11 Apr 2026 05:00 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Ada dua sifat istimewa yang sangat dicintai oleh Allah dalam diri seorang hamba. Seperti diungkapkan Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten TTU, Syaiful Yani Djahilape, S.HI, pekan lalu.

Menurutnya, Rasulullah SAW menyebutkan kedua sifat tersebut adalah sifat Al-Halim dan sifat Al-Anah. "Sifat pertama adalah Al-Halim, yaitu kemampuan menahan diri saat emosi sedang memuncak," katanya dalam tausiah di Pro 2 RRI Atambua.

Seseorang yang memiliki sifat Al-Halim akan tetap tenang meskipun amarah sedang menguasai jiwanya. Menahan amarah sangat penting karena emosi yang meluap sering kali menghilangkan akal sehat.

Saat marah, manusia cenderung melakukan tindakan buruk yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW menjanjikan pahala besar bagi mereka yang mampu meredam amarah saat berkuasa.

"Allah akan memanggilnya di hari kiamat dan memberikan kebebasan memilih bidadari di surga," ucapnya. "Orang yang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat atau selalu menang dalam perkelahian."

Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten TTU, Syaiful Yani Djahilape, S.HI. (Foto: Humas Kankemenag TTU)

Kekuatan sesungguhnya, kata Syaiful adalah kemampuan mengendalikan diri sendiri ketika hati sedang merasa sangat marah. Banyak dampak negatif muncul akibat kemarahan, seperti ucapan talak atau kata-kata yang kotor.

Marah juga bisa membuka aib diri sendiri di hadapan orang lain tanpa disadari. Kisah seorang saleh yang sombong karena marah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Ia bersumpah Allah tidak mengampuni temannya, namun justru amalnya sendiri yang Allah hapuskan. "Sifat kedua yang sangat dicintai Allah SWT adalah Al-Anah, yaitu tidak tergesa-gesa," ujarnya.

Sifat Al-Anah mengajarkan kita untuk selalu bersikap tenang dalam mengambil setiap keputusan penting. Setiap Muslim harus berpikir jauh ke depan sebelum bertindak demi kemaslahatan bersama.

"Kita perlu mempertimbangkan matang-matang agar terhindar dari mudarat yang mungkin akan terjadi nanti," katanya. Sifat tergesa-gesa atau al-isti’jal justru merupakan perbuatan yang berasal dari godaan setan.

Syaiful mengatakan ketergesaan dalam ibadah, seperti shalat tanpa tumakninah, dapat membuat amalan tersebut tidak diterima. "Dalam menerima berita, kita wajib melakukan tabayyun atau mengecek kebenaran informasi tersebut," ujarnya.

Dua sifat ini disebutnya menjadi kunci kemuliaan bai setiap hamba. "Mari kita berusaha memiliki keduanya agar hidup lebih berkah dan diridhai Allah SWT," kata Syaiful di akhir tausiah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....