MBG Didorong Jadi Penggerak Produksi Pangan Lokal Alor

  • 09 Agt 2026 15:47 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang cukup, tetapi juga sehat dan bergizi sebagai bagian dari upaya mewujudkan Generasi Emas 2045.

Andriko menjelaskan, makanan yang diberikan dalam program MBG harus memenuhi prinsip keberagaman pangan dengan menyediakan nasi, lauk, sayuran dan buah. Konsep makanan bergizi dan berimbang tersebut membutuhkan ketersediaan bahan baku yang berasal dari produksi pangan dalam negeri.

“Pak Presiden itu memberi makan kepada anak-anak generasi penerus bangsa, yang pada akhirnya anak-anak inilah yang akan meneruskan perjuangan negara ini. Agar dia bisa melakukan itu dengan baik, dia tidak hanya kenyang, tapi selain kenyang, dia harus sehat,” ujar Andriko. Sabtu, 08 Agustus 2026.

Menurutnya, setiap dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus didorong menjadi penyerap atau uptaker hasil produksi petani, peternak dan nelayan. Dengan demikian, program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga menciptakan pasar bagi produk pangan lokal.

“MBG diposisikan sebagai uptaker, yang mengambil semua hasil pertanian yang diproduksi oleh petani, peternak dan nelayan. Apabila itu kurang, maka harus ditingkatkan produksi dalam negerinya, produksi Kabupaten Alornya,” katanya.

Andriko mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk program MBG harus menjadi momentum meningkatkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan di daerah. Karena itu, bantuan benih padi, jagung dan berbagai komoditas pertanian yang diberikan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan lokal Alor.

Ia menjelaskan, hasil produksi tersebut nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, memasok program MBG maupun dipasarkan secara umum. Perputaran ekonomi dari sektor pangan dinilai akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, terutama petani, peternak, nelayan dan pelaku usaha lokal.

Andriko menyebut belanja pangan masyarakat Indonesia setiap tahun mencapai hampir Rp3.000 triliun. Menurutnya, besarnya potensi pasar dalam negeri tersebut harus dimanfaatkan dengan memperkuat produksi pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Untuk Kabupaten Alor, ia mendorong agar kebutuhan bahan pangan SPPG secara bertahap dapat dipenuhi dari produksi daerah sendiri. Jika kebutuhan telur dan daging ayam meningkat, misalnya, maka peluang tersebut dapat dimanfaatkan dengan mengembangkan peternakan ayam dan produksi telur di Alor.

Andriko menegaskan, ketika produksi pangan lokal meningkat, manfaat ekonominya akan dirasakan langsung masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja, tersedianya pasar bagi petani dan meningkatnya pendapatan. Karena itu, program MBG diharapkan tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Alor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....