Parenting sebelum vs. sesudah Tahu Ilmunya, Siapa yang Relate?
- 28 Sep 2026 19:58 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID,Way Kanan:Menjadi orang tua adalah salah satu pekerjaan paling menantang di dunia yang anehnya tidak menyediakan buku petunjuk resmi saat bayinya lahir. Akibatnya, sebagian besar dari kita memulai perjalanan ini dengan modal "nekat", insting seadanya, atau meniru mentah-mentah apa yang orang tua zaman dulu lakukan kepada kita.
Baru setelah anak mulai bertingkah, rumah berubah menjadi medan perang harian, dan energi kita terkuras habis, kita mulai berburu buku parenting, mendengarkan siniar (podcast), atau mengikuti seminar psikologi anak.
Dikutip dari laman BKKBN begitu mata kita terbuka oleh ilmu parenting modern, barulah kita menengok ke belakang dan menyadari betapa kocaknya (dan salahnya) cara kita mengasuh anak dulu. Siapa yang relate dengan perbedaan kontras fase sebelum dan sesudah tahu ilmunya berikut ini?
Perbandingan Nyata: Dulu vs. Sekarang
Mari kita bedah beberapa skenario sehari-hari yang pasti sering membuat para orang tua mengelus dada saat mengingat masa lalu:
1. Saat Anak Mengalami Tantrum (Mengamuk)
- Sebelum Tahu Ilmunya: Menganggap anak sengaja mencari masalah, nakal, dan keras kepala. Respons orang tua biasanya adalah ikut berteriak, mengancam ("Kalau nggak diam, Mama tinggal ya!"), atau memberikan hukuman fisik agar anak bungkam karena takut.
- Sesudah Tahu Ilmunya: Paham bahwa tantrum adalah tanda otak emosional anak sedang kewalahan dan mereka belum bisa mengekspresikannya dengan kata-kata. Respons kita sekarang: Menurunkan tinggi badan sejajar dengan anak, hadir secara emosional, memeluknya, dan memvalidasi perasaannya ("Kamu lagi kesal ya? Nggak apa-apa, Mama temenin di sini sampai kamu tenang.").
2. Saat Anak Menolak Sayur atau GTM (Gerakan Tutup Mulut)
- Sebelum Tahu Ilmunya: Stres berat, panik, lalu berujung memaksa anak mengunyah makanan sambil marah-marah. Terkadang sampai menggunakan trik menakut-nakuti atau menjejalkan sendok secara paksa yang justru membuat anak trauma dengan jam makan.
- Sesudah Tahu Ilmunya: Mengerti tentang konsep responsive feeding dan pembagian tanggung jawab (division of responsibility). Tugas orang tua adalah menyediakan makanan bergizi pada jam yang teratur, sedangkan tugas anak adalah menentukan seberapa banyak mereka mau makan. Kita jadi lebih santai dan kreatif memvariasikan bentuk makanan tanpa drama pemaksaan.
3. Saat Anak Melakukan Kesalahan (Misal: Menumpahkan Susu)
- Sebelum Tahu Ilmunya: Refleks pertama adalah mengomel panjang lebar: "Tuh kan! Makanya kalau minum yang benar! Ceroboh banget sih jadi anak!". Fokus pada kesalahan dan menghakimi karakter anak.
- Sesudah Tahu Ilmunya: Sadar bahwa kesalahan adalah laboratorium terbaik bagi anak untuk belajar. Kita menarik napas dalam-dalam, menahan omelan, dan fokus pada solusi (problem solving): "Wah, susunya tumpah ya. Yuk, kita ambil kain lap dan bersihkan bersama-sama."
4. Menilai Keberhasilan Pola Asuh
- Sebelum Tahu Ilmunya: Standar anak hebat adalah anak yang "penurut", diam seperti patung saat diperintah, tidak pernah membantah, dan selalu mendapat nilai sempurna di sekolah demi validasi lingkungan sosial.
- Sesudah Tahu Ilmunya: Paham bahwa anak yang terlalu penurut justru rentan kehilangan jati diri. Kita sekarang lebih bangga jika anak berani berpendapat secara sopan, mampu mengelola emosi dengan baik, dan memiliki hubungan yang dekat serta penuh rasa percaya dengan orang tuanya.
Melihat perbedaan di atas, jangan sampai memicu rasa bersalah yang berlebihan (parental guilt) atas kesalahan kita di masa lalu. Ingat salah satu prinsip penting: "Kita tidak bisa melakukan hal yang lebih baik sampai kita mengetahui hal yang lebih baik."
Perubahan cara pandang dan perilaku kita setelah belajar ilmu parenting bukanlah tanda bahwa kita adalah orang tua yang gagal dulunya. Sebaliknya, itu adalah bukti nyata dari kedewasaan emosional kita. Kita memilih untuk memutus rantai pola asuh yang salah demi kesehatan mental generasi masa depan.
Jadi, untuk Ayah dan Bunda yang sekarang sedang berproses, sering menarik napas dalam-dalam saat anak menguji kesabaran, dan mempraktikkan ilmu-ilmu parenting baru dengan tertatih-tatih: Anda luar biasa. Perjalanan ini tidak butuh kesempurnaan, melainkan pertumbuhan bersama anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....