Remaja Bukan Sulit Diatur, Mereka Sedang Belajar Mengatur Diri

  • 28 Sep 2026 20:00 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan:Fase remaja sering kali menjadi masa yang paling menantang dalam hubungan antara orang tua dan anak. Rumah yang tadinya penuh tawa berganti menjadi medan perdebatan. Anak yang dulunya penurut tiba-tiba mulai membantah, senang mengurung diri di kamar, atau lebih mendengarkan teman-temannya dibanding nasihat Ayah dan Bunda.

Dikutip dari laman BKKBN Stigma yang melekat pun biasanya seragam: "Anak remaja sekarang sulit diatur dan pemberontak."
Namun, benarkah mereka sengaja ingin melawan? Mari kita mengubah cara pandang. Remaja sebenarnya bukan sedang sengaja menyulitkan orang tua. Mereka adalah individu yang sedang mengalami badai perkembangan dan tengah bersusah payah belajar mengatur diri mereka sendiri.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik "Pemberontakan" Mereka?
Untuk memahami remaja, kita harus melihat apa yang terjadi di dalam kepala dan psikologis mereka:
  • Otak yang Belum Matang Sempurna: Bagian otak bernama prefrontal cortex yang berfungsi mengambil keputusan logis, mengendalikan emosi, dan memikirkan konsekuensi panjang baru akan matang sempurna di usia 25 tahun. Sementara itu, amigdala (pusat emosi) mereka sudah aktif penuh. Akibatnya, remaja bertindak berdasarkan emosi terlebih dahulu baru logika.
  • Pencarian Identitas Diri: Remaja sedang bertransisi dari anak-anak yang bergantung penuh menjadi orang dewasa yang mandiri. Pertanyaan seperti "Siapa aku?" dan "Di mana tempatku di dunia ini?" membuat mereka ingin mencoba hal baru dan melepaskan diri dari kontrol ketat orang tua.
  • Belajar Mengelola Batasan (Boundaries): Ketika mereka membantah atau mempertahankan argumen, mereka sebenarnya sedang berlatih menyuarakan pendapat dan menetapkan batasan diri. Ini adalah keterampilan hidup yang penting saat mereka dewasa nanti.
Daripada terus-menerus menjadi polisi yang mengontrol setiap gerak-gerik mereka, orang tua perlu beralih peran menjadi pelatih atau mentor:
1. Ubah Perintah Menjadi Diskusi
Alih-alih langsung melarang dengan kalimat, "Jangan pulang malam!", ajak mereka berdiskusi: "Menurutmu, jam berapa waktu yang aman untuk pulang malam minggu nanti? Mengapa?" Berikan mereka ruang untuk berpikir dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
2. Izinkan Mereka Mengalami Konsekuensi Alami
Belajar mengatur diri artinya belajar dari kesalahan. Jika mereka lupa menjemur handuk atau terlambat bangun tidur, biarkan mereka menerima konsekuensinya (misalnya handuknya bau atau terlambat sekolah). Jangan terburu-buru "menyelamatkan" mereka, karena dari situlah proses belajar terjadi.
3. Jadilah Pendengar, Bukan Pengkritik
Saat remaja bercerita tentang masalahnya dengan teman atau sekolah, tahan keinginan untuk langsung menceramahi. Cukup dengarkan dan validasi emosinya: "Pasti rasanya kesal ya diperlakukan seperti itu?" Ketika mereka merasa aman bercerita tanpa takut dikritik, mereka akan lebih terbuka menerima masukan.
4. Berikan Kepercayaan Secara Bertahap
Remaja butuh tahu bahwa orang tuanya memercayai mereka. Berikan mereka tanggung jawab baru di rumah atau kebebasan memilih jalurnya sendiri, namun tetap pasang koridor atau batasan prinsip yang jelas (seperti masalah keamanan, nilai moral, dan ibadah).
Menemani anak remaja memang membutuhkan stok kesabaran yang luar biasa. Namun dengan mengubah sudut pandang—bahwa mereka adalah "murid kehidupan yang sedang magang menjadi orang dewasa"—kita akan lebih mudah menurunkan ego, meredam amarah, dan mengulurkan tangan untuk menuntun mereka, bukan memukul mundur semangat mereka.
google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....