Anak Pandai Bersyukur Itu Bisa Dibentuk: Ini Rahasianya

  • 13 Sep 2026 16:00 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan:Rasa syukur (gratitude) bukanlah bakat alami, melainkan sebuah keterampilan emosional (emotional skill). Karena sifatnya adalah keterampilan, maka rasa syukur bisa dilatih, dibiasakan, dan dibentuk sejak dini.

Dikutip dari laman BKKBN, menanamkan rasa syukur pada anak bukan sekadar agar mereka rajin mengucapkan "terima kasih," tetapi untuk membangun ketahanan mental (resilience) mereka saat dewasa. Anak yang pandai bersyukur terbukti tumbuh menjadi pribadi yang lebih bahagia, tidak mudah cemas, dan memiliki empati yang tinggi.
Lalu, bagaimana rahasia membentuknya? Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan di rumah:
1. Rahasia Struktur Otak: Ajarkan Konsep "NOTICE"
Menurut studi dari Greater Good Science Center di University of California, Berkeley, rasa syukur pada anak melibatkan proses kognitif yang kompleks. Orang tua perlu melatih anak menggunakan formula NOTICE (Perhatikan-Pikirkan-Rasakan-Lakukan):
  • Notice (Perhatikan): Ajak anak menyadari hal-hal baik di sekitarnya. Bukan cuma hadiah besar, tapi hal kecil seperti embusan angin sejuk atau rasa es krim yang enak.
  • Think (Pikirkan): Stimulasi anak untuk berpikir, "Mengapa orang tersebut memberikan ini padaku?" atau "Mengapa aku beruntung bisa mendapatkan ini?"
  • Feel (Rasakan): Tanyakan emosi yang muncul, "Bagaimana perasaanmu setelah dibantu oleh kakak tadi?"
  • Do (Lakukan): Bimbing mereka untuk mengekspresikan rasa tersebut, baik melalui ucapan terima kasih, pelukan, atau membalas kebaikan.
2. Ritual "Tiga Hal Baik" Sebelum Tidur
Salah satu cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan adalah melalui ritual harian yang konsisten. Sebelum anak tidur, saat gelombang otak mereka mulai rileks, tanyakan satu pertanyaan sederhana: "Sebutkan tiga hal menyenangkan yang bikin kamu bahagia hari ini?"
Awalnya, anak mungkin hanya akan menyebutkan hal-hal material seperti "karena dibelikan mainan baru." Namun lambat laun, dengan bimbingan orang tua, mereka akan mulai mensyukuri hal-hal non-material, seperti "karena tadi di sekolah bisa main petak umpet bareng Budi" atau "karena makan malam hari ini supnya enak banget." Ritual ini melatih otak anak untuk aktif menyaring hal positif, bahkan di hari yang melelahkan sekalipun.
3. Batasi Budaya Instant Gratification (Pemuasan Instan)
Anak yang selalu mendapatkan apa pun yang mereka inginkan secara instan akan kesulitan menghargai nilai dari sesuatu. Jika setiap rengekan langsung membuahkan mainan atau gawai baru, sirkuit penghargaan (reward system) di otak anak akan tumpul.
Rahasianya adalah mengenalkan konsep menunggu dan berusaha. Biarkan mereka menabung dari uang saku jika menginginkan sesuatu yang mahal, atau jadikan mainan tersebut sebagai hadiah atas sebuah pencapaian/kepatuhan tertentu. Ketika ada usaha yang dikeluarkan, rasa syukur saat mendapatkannya akan berkali-kali lipat lebih besar.
4. Menjadi Role Model (Cermin Hidup)
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak mendengarkan apa yang kita katakan, mereka meniru apa yang kita lakukan. Rahasia terbesar membentuk anak yang bersyukur adalah dengan menunjukkan orang tua yang juga pandai bersyukur.
  • Ucapkan terima kasih secara tulus kepada pasangan di depan anak.
  • Ucapkan terima kasih kepada asisten rumah tangga, pengemudi ojek daring, atau pelayan restoran dengan sopan.
  • Hindari kebiasaan mengeluh secara berlebihan tentang finansial atau pekerjaan di depan anak.
Membentuk anak yang pandai bersyukur bukanlah proyek semalam. Ini adalah kumpulan dari percakapan-percakapan kecil di meja makan, pelukan hangat sebelum tidur, dan ketegasan orang tua untuk tidak memanjakan anak secara berlebihan. Ketika kita berhasil mengajari anak cara bersyukur, kita sebenarnya sedang membekali mereka dengan "perisai kebahagiaan" terbaik untuk mengarungi kerasnya dunia di masa depan.
google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....