Pemkab Way Kanan Siapkan Strategi Irigasi Hadapi Musim Kemarau
- 23 Agt 2026 16:59 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID, Way Kanan – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Way Kanan menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Pengelolaan distribusi air irigasi, koordinasi lintas sektor, hingga pemanfaatan pompanisasi menjadi strategi pemerintah untuk meminimalkan dampak kekeringan terhadap lahan pertanian.
Kepala DTPHP Way Kanan, Fallahudin, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, terutama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung dan BBWS Sumatera VIII.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk mengatur ketersediaan dan distribusi air pada Daerah Irigasi (DI) Komering dan DI Umpu.
“Untuk mengatasi puncak kemarau, kami telah melakukan koordinasi intensif lintas sektor. BBWS Sumatera VIII telah mengeluarkan surat edaran terkait jadwal gilir air,” ujar Fallahudin, Minggu, 23 Agustus 2026.
Fallahudin menjelaskan, berdasarkan surat edaran BBWS Sumatera VIII, distribusi air di DI Komering akan dilakukan dengan sistem buka tutup.
DI Komering melayani wilayah Bumi Agung, Bahuga, dan Buay Bahuga. Dalam pengaturan tersebut, air akan dialirkan selama empat hari, kemudian ditutup selama tiga hari untuk dialihkan ke wilayah lainnya.
Sementara itu, kondisi DI Umpu yang melayani wilayah Banjit dan Baradatu membutuhkan pengaturan berbeda karena debit air yang tersedia saat ini relatif kecil.
Berdasarkan hasil rapat pada awal Agustus, pengaliran air di DI Umpu hanya dilakukan selama dua hari dalam sepekan, yakni setiap Kamis dan Jumat.
Kondisi tersebut membuat pemerintah meminta petani dan masyarakat yang memanfaatkan sumber air irigasi untuk menggunakannya secara bijak.
“Kami mengimbau seluruh petani dan masyarakat pemanfaat air untuk sekiranya menggunakan air tersebut dengan bijak,” jelas Fallahudin.
Selain mengatur distribusi air irigasi, pemerintah juga menyiapkan alternatif bagi lahan pertanian yang tidak terjangkau jaringan irigasi teknis.
Melalui Kementerian Pertanian, pemerintah pusat telah menyalurkan bantuan irigasi pompanisasi di sejumlah titik yang dinilai rawan mengalami kekeringan.
Saat ini pembangunan sumur bor untuk mendukung pompanisasi masih berlangsung. Pengerjaan dilakukan secara swakelola oleh Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Fallahudin berharap pembangunan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
“Harapan kami sumur-sumur bor ini dapat segera terbangun dan bisa langsung dimanfaatkan petani untuk mengaliri lahan sawahnya,” katanya.
Untuk menghemat penggunaan air, DTPHP Way Kanan juga mendorong petani menerapkan metode pengairan berselang atau sistem basah-kering.
Melalui metode tersebut, sawah tidak terus-menerus digenangi air. Pengaturan pengairan dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan tanaman.
Cara ini dinilai dapat membantu menghemat penggunaan air sekaligus memperpanjang masa ketersediaan air untuk lahan pertanian selama musim kemarau.
Fallahudin juga meminta Gapoktan yang menerima bantuan pompanisasi segera melakukan koordinasi internal.
Koordinasi diperlukan untuk memastikan pemanfaatan sumur bor dapat dilakukan secara adil dan merata sehingga seluruh petani di wilayah penerima bantuan dapat memperoleh manfaat.
Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dan penerapan strategi pengelolaan air tersebut mampu menjaga keberlangsungan produksi pertanian Way Kanan di tengah puncak musim kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....