Fakta Pahit Dibaik Sisa Makanan

  • 19 Jul 2026 05:58 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan:"Sisa makanan akan busuk dengan sendirinya, jadi tidak berbahaya bagi lingkungan." Pernyataan ini salah besar. Anggapan keliru tersebut membuat banyak orang mengabaikan tumpukan sampah dapur karena mengira material organik pasti aman bagi alam. Fakta pahitnya, cara sisa makanan membusuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) justru menjadi salah satu pemicu utama pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Dikutip dari laman BADAN POM Mengapa Proses Pembusukan di TPA Sangat Berbahaya?
Di alam terbuka (seperti hutan), sisa organik membusuk dengan bantuan oksigen (aerobik) dan berubah menjadi humus yang menyuburkan tanah. Namun, kondisi di TPA sangat jauh berbeda:
  • Bom Waktu Gas Metana: Sampah makanan di TPA tertimbun oleh jutaan ton sampah lain, menciptakan kondisi kedap udara tanpa oksigen (anaerobik). Pembusukan anaerobik ini menghasilkan gas metana (CH₄), gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO₂) dalam memerangkap panas di atmosfer.
  • Bahaya Ledakan TPA: Akumulasi gas metana yang tinggi di bawah gunungan sampah berpotensi memicu ledakan besar yang fatal dan kebakaran yang sulit dipadamkan.
  • Polusi Air Lindi: Cairan hasil pembusukan sampah makanan (air lindi) merembes masuk ke dalam tanah. Cairan beracun ini mencemari cadangan air tanah dan sungai di sekitar pemukiman warga.
Fakta Miris Sampah Makanan di Indonesia dan Global
Data menunjukkan bahwa perilaku membuang makanan bukan lagi sekadar masalah dapur, melainkan krisis multidimensi:
  1. Penyumbang Emisi Global: Jika sampah makanan di dunia diibaratkan sebagai sebuah negara, maka ia akan menjadi negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.
  2. Krisis Nasional: Berdasarkan data Bappenas, Indonesia membuang sekitar 23 hingga 48 juta ton sampah makanan per tahun. Angka ini mendominasi lebih dari 40% total volume sampah nasional.
  3. Ironi Sosial-Ekonomi: Kerugian ekonomi akibat sisa makanan di Indonesia mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Di sisi lain, makanan yang terbuang tersebut sebenarnya mampu memberi makan dan memperbaiki gizi jutaan anak yang mengalami kelaparan atau stunting.

Cara Menghentikan Efek Buruk Sisa Makanan
Menghilangkan kebiasaan membuang makanan adalah salah satu langkah iklim paling berdampak yang bisa kita lakukan dari rumah:
  • Belanja dengan Perencanaan: Buat daftar belanjaan mingguan yang ketat dan masak sesuai porsi kebutuhan keluarga.
  • Habiskan Isi Piring: Ambil makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu. Lebih baik menambah daripada menyisakan makanan yang akhirnya terbuang.
  • Pilah Sampah Sejak dari Dapur: Jangan campur sisa makanan dengan plastik atau kertas. Sampah organik yang terpisah bisa diolah secara mandiri menjadi pupuk kompos atau pakan maggot.
Setiap butir nasi atau potongan sayur yang kita buang tidak pernah menghilang begitu saja secara aman. Mereka berubah menjadi gas beracun yang merusak masa depan bumi kita. Mengurangi sampah makanan bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan tanggung jawab moral kita demi menjaga kelangsungan planet ini.
google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....