Sunyi Nyepi , Suci Idul Fitri, Merawat Damai di Bumi Ramik Ragom

  • 18 Mar 2026 17:18 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan: Kabupaten Way Kanan, yang dikenal dengan julukan Bumi Ramik Ragom, merupakan manifestasi nyata dari keberagaman yang menyatu dalam satu ikatan persaudaraan. Istilah "Ramik Ragom" sendiri secara filosofis berarti keramaian dalam keberagaman yang rukun dan damai.

Ustad Bukhori mengataka tahun ini, semesta seolah memberikan ruang bagi kita untuk merenung lebih dalam. Pertemuan antara suasana Sunyi Nyepi dan persiapan menuju Suci Idul Fitri bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan pesan tentang keseimbangan hidup.

1. Sunyi Nyepi: Jeda untuk Introspeksi
Hari Raya Nyepi mengajarkan kita tentang kekuatan dalam keheningan. Melalui Catur Brata Penyepian—seperti Amati Geni (tidak menyalakan api) dan Amati Karya (tidak bekerja)—umat Hindu diajak untuk memadamkan api amarah dan nafsu di dalam diri. Di Bumi Ramik Ragom, kesunyian ini adalah bentuk penghormatan alam semesta, di mana manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menemukan kembali jati dirinya.

2. Ramadhan dan Suci Idul Fitri: Perjalanan Menuju Fitrah
Sama halnya dengan Nyepi, ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Kita menahan lapar, haus, dan nafsu untuk mencapai kesucian hati. Puncaknya, Idul Fitri hadir sebagai simbol kemenangan dan kembalinya manusia kepada fitrah yang suci. Kesucian ini tidak akan sempurna jika tidak dibarengi dengan semangat memaafkan dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

3. Merawat Damai di Bumi Ramik Ragom
Mengapa damai perlu dirawat? Karena keberagaman adalah kekayaan yang menuntut komitmen setiap pribadi. Di Way Kanan, masyarakat hidup berdampingan dengan menjunjung tinggi nilai Piil Pesenggiri, yaitu martabat dan harga diri yang dibangun melalui keterbukaan (Nemui Nyimah) dan gotong royong (Sakai Sambayan).
Ketika lonceng pura berdentang dalam sunyi dan suara takbir berkumandang menuju kemenangan, keduanya bertemu pada satu titik: Kemanusiaan. Toleransi bukan sekadar membiarkan perbedaan, tetapi saling menjaga agar setiap umat dapat menjalankan ibadahnya dengan khidmat.

Keheningan Nyepi memberi kita kejernihan, sementara kesucian Idul Fitri memberi kita ketulusan. Mari kita jadikan momentum ini untuk mempererat tali silaturahmi, membuang ego, dan terus menanam benih damai di atas tanah tercinta, Bumi Ramik Ragom. Karena di tengah perbedaan, tujuan kita tetap satu: merajut harmoni dalam bingkai kasih sayang

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....