Jangan Salah Kira, Ayah Punya Peran Besar dalam Cegah Stunting
- 18 Jun 2026 18:57 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID,Way Kanan:Stunting bukan hanya urusan ibu dan dapur; ayah memegang peran krusial sebagai penentu keberhasilan pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Selama ini, beban pemenuhan gizi dan pengasuhan anak sering kali dibebankan sepenuhnya kepada ibu. Padahal, keterlibatan aktif seorang ayah secara psikologis dan finansial berdampak langsung pada status kecukupan gizi anak serta kesehatan mental ibu yang sedang menyusui.
Dikutip dari laman BKKBN jika ayah pasif, risiko anak mengalami gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis atau stunting akan meningkat secara signifikan.
Mengapa Peran Ayah Begitu Menentukan?
Berdasarkan panduan dari Kementerian Kesehatan RI dan BKKBN, keterlibatan ayah dalam mencegah stunting bekerja melalui dua jalur utama:
- Penjaga Kesehatan Mental Ibu (Aspek Psikologis): Stres pada ibu hamil dan menyusui dapat menghambat produksi hormon oksitosin yang diperlukan untuk kelancaran ASI. Dukungan emosional dari ayah membuat ibu bahagia, sehingga produksi ASI eksklusif menjadi maksimal.
- Pengambil Keputusan Finansial (Aspek Ekonomi): Ayah sebagai kepala keluarga menentukan arah alokasi anggaran rumah tangga. Mengutamakan pembelian protein hewani (seperti telur, ikan, dan daging) dibandingkan rokok adalah keputusan fatal yang berada di tangan ayah.
- Mitra Pengasuhan (Aspek Praktis): Mengasuh anak adalah tugas bersama. Ayah yang mau bergantian menjaga bayi memberikan waktu bagi ibu untuk beristirahat dan menjaga kualitas kesehatannya.
Langkah Nyata Ayah dalam Mencegah Stunting
Aksi nyata pencegahan stunting oleh ayah harus dimulai sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun:
1. Mengawal Kehamilan Ibu (0-9 Bulan)
- Siaga Mengantar: Menemani ibu melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke dokter atau bidan minimal 6 kali selama masa kehamilan.
- Memastikan Nutrisi: Memastikan ibu hamil mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan meminum Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin untuk mencegah anemia pada janin.
2. Menjadi Breastfeeding Father (0-6 Bulan)
- Mendukung ASI Eksklusif: Membantu memijat oksitosin pada punggung ibu untuk memperlancar aliran ASI.
- Mengambil Alih Tugas Domestik: Membantu mencuci piring, menyapu, atau memandikan bayi agar ibu memiliki waktu istirahat yang cukup untuk memproduksi ASI berkualitas.
3. Mengawasi Fase MPASI dan Sanitasi (6-24 Bulan)
- Menyediakan Protein Hewani: Memprioritaskan anggaran belanja untuk membeli telur, ikan, atau ayam sebagai menu wajib MPASI anak demi mengejar pertumbuhan fisik dan otaknya.
- Memperbaiki Sanitasi Rumah: Memastikan rumah memiliki akses air bersih, jamban yang sehat, serta menjaga lingkungan tetap bersih agar anak tidak sering terkena diare atau infeksi cacing yang memicu stunting.
- Memantau Tumbuh Kembang: Meluangkan waktu untuk mengantar anak ke Posyandu setiap bulan guna memantau grafik berat dan tinggi badan anak di Kartu Menuju Sehat (KMS).
Mencegah stunting adalah kerja tim antara ayah dan ibu. Ayah bukan sekadar pencari nafkah yang berdiri di luar garis pengasuhan, melainkan benteng pertama yang memastikan ibu dan anak mendapatkan hak nutrisi serta kasih sayang yang utuh. Dengan hadir secara penuh, ayah tidak hanya menyelamatkan masa depan fisik anaknya, tetapi juga sedang membangun generasi bangsa yang cerdas dan kompetitif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....