BRIN Kembangkan Perekat Ramah Lingkungan dari Kulit Akasia

  • 31 Jul 2026 13:01 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID, Way Kanan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan perekat ramah lingkungan berbasis biomassa lokal melalui pemanfaatan tanin dari kulit kayu akasia. Inovasi tersebut diharapkan menjadi alternatif pengganti perekat berbahan kimia yang mengandung emisi formaldehida.

Penelitian tersebut dipimpin Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Muhammad Adly Rahandi Lubis, Ph.D., yang mengembangkan teknologi perekat hijau untuk mendukung industri furnitur dan biokomposit yang lebih berkelanjutan.

Selama ini, industri furnitur dan material kayu masih banyak menggunakan perekat berbasis formaldehida yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Karena itu, pemanfaatan biomassa lokal dinilai menjadi solusi yang lebih aman sekaligus memiliki nilai tambah.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah perekat bio-poliuretan non-isosianat berbasis tanin yang memanfaatkan kulit kayu akasia tropis sebagai bahan baku. Teknologi tersebut menghasilkan resin perekat dengan kinerja tinggi untuk produk kayu lapis dan biokomposit tanpa menggunakan isosianat.

Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan serat rami tahan api yang diimpregnasi bio-poliuretan berbasis tanin. Material tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil, furnitur, hingga konstruksi dengan tetap mengedepankan aspek ramah lingkungan.

Melalui inovasi tersebut, BRIN berharap pemanfaatan sumber daya biomassa Indonesia dapat meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbasis formaldehida.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....