Fakta Pahit Dibalik Sisa Makanan yang Sering Diabaikan
- 22 Mei 2026 18:47 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID,Way Kanan:Anggapan bahwa sisa makanan akan membusuk dan terurai dengan sendirinya di TPA adalah mitos besar. Faktanya, tumpukan sampah makanan menghasilkan gas metana yang 21 kali lebih kuat dari \(CO2) dalam memicu pemanasan global, serta menjadi kontributor utama sampah organik di Indonesia.
Dikutip dari laman Badan Pom berikut adalah fakta pahit dibalik sisa makanan yang sering diabaikan:
1. Mitos "Busuk Sendiri" dan Realita TPA
Memang, sisa makanan adalah sampah organik yang bisa terurai. Namun, di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), sampah makanan tertimbun padat tanpa oksigen (kondisi anaerob). Bukannya terurai menjadi kompos yang berguna, sampah makanan justru mengalami pembusukan anaerobik yang menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berbahaya bagi atmosfer.
Memang, sisa makanan adalah sampah organik yang bisa terurai. Namun, di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), sampah makanan tertimbun padat tanpa oksigen (kondisi anaerob). Bukannya terurai menjadi kompos yang berguna, sampah makanan justru mengalami pembusukan anaerobik yang menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berbahaya bagi atmosfer.
2. Indonesia Darurat Sampah Makanan
Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah makanan (food waste) terbesar di dunia. Data menunjukkan, dunia menghasilkan sekitar 1,3 miliar ton food waste per tahun. Jika disandingkan dengan data, sampah makanan merupakan jenis sampah dengan jumlah terbesar di Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah makanan (food waste) terbesar di dunia. Data menunjukkan, dunia menghasilkan sekitar 1,3 miliar ton food waste per tahun. Jika disandingkan dengan data, sampah makanan merupakan jenis sampah dengan jumlah terbesar di Indonesia.
3. Dampak Lingkungan dan Sosial
- Pemanasan Global: Emisi gas rumah kaca dari sampah makanan menyumbang 8% dari total emisi global.
- Paradoks Sosial: Di tengah tingginya tumpukan sampah makanan, sebagian penduduk masih menghadapi masalah kekurangan gizi dan kelaparan.
- Pencemaran Microbiome Tanah: Sisa makanan yang terbuang sembarangan menimbulkan patogen yang mengganggu mikrobioma tanah.
4. Bukan Hanya Sampah, Tapi Pemborosan Sumber Daya
Saat membuang makanan, kita tidak hanya membuang sisa makanan, tetapi juga menyia-nyiakan air, energi, tanah, dan tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi, memanen, dan mengangkut makanan tersebut.
Saat membuang makanan, kita tidak hanya membuang sisa makanan, tetapi juga menyia-nyiakan air, energi, tanah, dan tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi, memanen, dan mengangkut makanan tersebut.
Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan:
- Reduce: Masak atau beli makanan secukupnya.
- Reuse: Mengolah kembali sisa makanan yang masih layak.
- Recycle: Mengolah sisa makanan menjadi kompos atau eco-enzyme.
Bijak dalam konsumsi makanan adalah bentuk tanggung jawab individu untuk mengurangi dampak negatif terhadap bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....