Konten yang Diakses Harus Sesuai Umur

  • 20 Apr 2026 08:15 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan:Di era digital yang serba cepat, internet telah menjadi jendela dunia bagi semua kalangan, termasuk anak-anak. Namun, tidak semua pemandangan di balik jendela tersebut layak untuk dikonsumsi oleh mereka yang belum cukup umur. Memastikan konten yang diakses sesuai dengan usia bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga kesehatan mental dan keselamatan anak.

Mengapa Batasan Usia Itu Krusial?
Anak-anak dan remaja memiliki tahap perkembangan psikologis yang berbeda. Memaparkan mereka pada konten yang tidak sesuai—seperti kekerasan, pornografi, perundungan siber, hingga hoaks—dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka secara permanen. Dikutip dari laman BKKBN tanpa filter yang tepat, risiko kecanduan digital dan paparan iklan dewasa yang "menyelinap" dapat mengganggu proses tumbuh kembang mereka.

Regulasi Terbaru di Indonesia (PP TUNAS)
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah tegas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) dan Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026. Beberapa poin penting dalam regulasi ini meliputi:
  • Larangan Akun di Bawah 16 Tahun: Mulai 28 Maret 2026, platform digital diwajibkan menonaktifkan akun media sosial milik anak di bawah usia 16 tahun.
  • Kategorisasi Risiko:
    • 13–15 Tahun: Diperbolehkan mengakses platform dengan risiko rendah hingga sedang.
    • 16–17 Tahun: Dapat mengakses platform risiko tinggi, namun tetap dengan pendampingan orang tua.
    • 18 Tahun ke Atas: Dianggap dewasa dan dapat mengakses semua kategori platform secara independen.

Strategi Akses Konten yang Aman
Selain regulasi pemerintah, kolaborasi antara teknologi dan peran orang tua sangatlah vital:
  1. Gunakan Fitur Kontrol Orang Tua: Platform besar seperti YouTube menyediakan aplikasi khusus seperti YouTube Kids yang memisahkan konten layak anak dari konten dewasa.
  2. Penerapan Age-Adaptive Content: Strategi ini menyesuaikan jenis konten yang muncul di layar berdasarkan usia pengguna, memastikan relevansi dan keamanan informasi yang diterima.
  3. Pendampingan Aktif: Teknologi hanya efektif jika didukung kehadiran orang tua. Keluarga harus menjadi "benteng terkuat" dalam membimbing anak memahami tanggung jawab dan risiko di dunia digital.

Melindungi anak di ruang digital adalah tanggung jawab bersama. Dengan mematuhi batasan usia dan memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia, kita dapat menciptakan ekosistem internet yang sehat di mana anak-anak dapat belajar dan berekspresi tanpa harus terpapar risiko yang melampaui usia mereka.
google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....