Spiral of Silence: ketika Kebenaran Tenggelam karena Mayoritas Lebih Vokal
- 31 Mar 2026 16:51 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID, Way Kanan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan fenomena spiral of silence atau spiral keheningan yang kerap terjadi di masyarakat. Kondisi ini membuat kebenaran sulit terdengar karena banyak orang memilih diam daripada berbeda pendapat.
Teori Spiral of Silence menjelaskan kecenderungan individu untuk memilih diam ketika merasa opininya berbeda dari mayoritas karena takut dikucilkan atau fear of isolation. Individu terus memantau iklim opini di sekitarnya. Saat merasa berada di posisi minoritas, mereka menahan diri.
“Saat yang bersuara paling banyak, justru bukan yang paling benar,” demikian unggahan akun resmi BRIN. Akibatnya, suara mayoritas tampak makin dominan, sementara opini minoritas semakin tenggelam dan menciptakan efek spiral keheningan.
Periset Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Munadhil Abdul Muqsith, menyatakan bahwa teori ini berkaitan erat dengan penyebaran misinformasi di media sosial. Ketika iklim opini dibentuk oleh suara yang paling viral, bukan oleh fakta, misinformasi menciptakan ilusi konsensus.
“Orang yang tahu kebenarannya pun ragu bersuara karena risiko perundungan daring, sehingga spiral keheningan menguat dan misinformasi makin sulit diluruskan,” jelas Munadhil dalam keterangan yang dikutip dari akun BRIN.
Contoh spiral keheningan dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemui saat rapat atau di grup keluarga, ketika orang memilih diam karena takut dianggap berbeda. Di Indonesia, tekanan dan intimidasi, termasuk terhadap jurnalis, membuat orang semakin berhati-hati dan memilih diam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....