Filosofi Tanah Liat dalam Koreografi Lempung

  • 03 Jul 2026 20:35 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Sebuah karya seni tari bertajuk Koreografi Lempung berhasil memukau penonton lewat visualisasi gerakan yang mendalam.

Tarian secara khusus menggambarkan seluruh proses pembuatan gerabah, mulai dari tanah liat yang tak berbentuk hingga bertransformasi menjadi sebuah karya yang bernilai estetika tinggi.

Koreografer, Shinta Sahriana, mengungkapkan karya bukan sekadar pementasan visual, melainkan sebuah refleksi kehidupan yang sarat akan pesan motivasi.

Menurut Shinta, esensi utama dari Koreografi Lempung ini terletak pada penggambaran fase-fase krusial saat membentuk tanah liat. Penonton diajak melihat bagaimana sebongkah tanah mentah harus melewati proses penumbukan, pengadukan, hingga pemutaran di atas roda perajin.

Dirinya menambahkan, setiap transisi gerakan tubuh para penari secara jeli memperlihatkan betapa sulit dan rumitnya proses pembuatan gerabah.

"Kami ingin memperlihatkan bahwa untuk menjadi sesuatu yang indah dan fungsional, ada proses panjang yang harus dilalui. Tanah liat itu harus ditekan, dibanting, dan dibakar. Begitu juga dengan kehidupan manusia," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, di balik keindahan gerak para penari, Koreografi Lempung membawa misi sebagai media motivasi bagi masyarakat. Kesulitan yang digambarkan dalam tarian menjadi simbol dari ujian hidup. Melalui ketekunan, kesabaran, dan visi yang kuat, tantangan tersebut pada akhirnya akan membuahkan hasil yang memikat layaknya gerabah yang siap dipamerkan.

Melalui sinkronisasi musik etnik yang ritmis dan tata cahaya yang dramatis, karya Shinta Sahriana sukses menyampaikan pesan bahwa keindahan tidak pernah tercipta secara instan, melainkan lahir dari proses tempaan yang konsisten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....