Minyak Bunga Matahari berpotensi dikembangkan di Indonesia

  • 29 Mar 2026 21:05 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID, Way Kanan – Nilai ekspor minyak bunga matahari global pada 2023 mencapai Rp300 triliun. Ukraina, Rusia, dan Argentina menjadi produsen utama. Indonesia berpeluang mengisi pasar tersebut.

Kementerian Pertanian menyebut bunga matahari memiliki nilai ekonomi signifikan. Tanaman ini penghasil minyak nabati berkualitas tinggi. “Potensi agribisnis bunga matahari kian menarik,” tulis akun resmi Kementan.

Selain minyak, biji bunga matahari digunakan untuk pakan ternak. Residu ekstraksinya bisa diolah menjadi biodiesel. Dengan begitu, tanaman ini mendukung energi terbarukan.

Indonesia memiliki iklim tropis yang cocok untuk budidaya bunga matahari. Tanaman ini butuh sinar matahari penuh dan curah hujan cukup. Beberapa daerah seperti Jatim, Jateng, Bali, dan Sulsel mulai mengembangkannya.

Peneliti Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Pemanis dan Serat (BPSITAS) Malang mengembangkan varietas Hal dan Hal15. Rendemen biji dua varietas itu mencapai 28-29 persen. Angka tersebut tergolong tinggi untuk skala nasional.

Pengamat pertanian dari Universitas Gadjah Mada, Sri Widyastuti, menilai peluang ini harus ditangkap serius. “Kita bisa kurangi impor minyak nabati jika serius mengembangkan bunga matahari,” katanya. Namun, ia mengingatkan perlunya dukungan benih unggul dan pendampingan petani.

Pemerintah melalui Kementan terus mendorong diversifikasi tanaman. Bunga matahari menjadi komoditas alternatif selain kelapa sawit. Langkah ini diharapkan meningkatkan pendapatan petani sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....