Kolaborasi Jadi Kunci Perlindungan Anak di Hari Anak Nasional
- 27 Jul 2026 15:27 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli – Perlindungan anak menjadi tanggung jawab bersama yang tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah maupun pemerintah. Keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah desa, organisasi, hingga media dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi anak.
Pesan tersebut mengemuka dalam dialog interaktif RRI Tolitoli dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang menghadirkan Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak (PHP dan PKA) DP3A B2KB Kabupaten Buol, Irmawati, S.Hi., bersama unsur dunia pendidikan dan konselor, Kamis (23/7/2026).
Kepala Bidang PHP dan PKA DP3A B2KB Kabupaten Buol, Irmawati, S.Hi., mengatakan pihaknya terus memperkuat upaya perlindungan anak hingga ke tingkat desa. Salah satu langkah yang dilakukan ialah membentuk Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) sebagai wadah untuk menciptakan lingkungan yang memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak.
Menurut Irmawati, hingga saat ini program DRPPA telah terbentuk di 10 desa di Kabupaten Buol. Keberadaan desa ramah tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pemerintah desa dan masyarakat dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Selain itu, DP3A B2KB juga telah membentuk Relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak) di enam desa. Para relawan memiliki tugas memberikan edukasi kepada masyarakat, melakukan pendampingan awal terhadap korban, serta mendorong masyarakat agar berani melaporkan apabila menemukan dugaan kasus kekerasan terhadap perempuan maupun anak.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui kerja sama dengan satuan pendidikan. Saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), DP3A turun langsung ke sejumlah sekolah untuk memberikan edukasi kepada para siswa mengenai bahaya perundungan (bullying), kekerasan seksual, serta pentingnya menghormati hak-hak anak sebagai bagian dari upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman.
Tidak hanya menyasar peserta didik, edukasi juga diberikan kepada para orang tua melalui kegiatan parenting yang dilaksanakan bersama PKK, kader desa, dan komite sekolah. Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pola pengasuhan yang positif agar anak merasa terlindungi dan nyaman di lingkungan keluarga.
Irmawati menegaskan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi salah satu faktor terpenting dalam mencegah terjadinya kekerasan. Menurutnya, anak harus merasa memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi.
"Orang tua harus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak agar mereka berani berbicara atau speak up ketika mengalami masalah. Bahkan sekarang istilahnya, orang tua harus menjadi 'bestie' bagi anaknya," ujar Irmawati.
Melalui momentum Hari Anak Nasional 2026, seluruh narasumber mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam perlindungan anak. Dengan kolaborasi keluarga, sekolah, pemerintah, organisasi masyarakat, pemerintah desa, hingga media, diharapkan setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, nyaman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....