Pasca Gempa, MTs 1 Biau Pulangkan Siswa Lebih Awal Demi Keselamatan

  • 10 Jun 2026 13:57 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Buol - Dampak dari guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Filipina memicu kepanikan di sejumlah lembaga pendidikan. Salah satu cerita datang dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Biau, di mana para guru harus bergerak cepat menyelamatkan ratusan siswa, terutama mereka yang berada di lantai dua gedung sekolah.

Kepala Tata Usaha (TU) MTs 1 Biau, Ibu Arifana, membeberkan kronologi saat gempa beruntun mengguncang wilayah tersebut.

Menurut Arifana, getaran pertama mulai terasa pada pukul 07.40 WITA. Pada awalnya, guncangan masih tergolong ringan sehingga situasi sekolah cenderung masih tenang. Siswa-siswi masih berada di dalam ruang kelas, begitu pula dengan para guru.

Namun, kondisi berubah drastis hanya berselang tiga menit kemudian.

"Di gempa kedua, itu tidak selang tiga menit kemudian, itu sudah agak keras getarannya. Akhirnya anak-anak semua diarahkan untuk turun. Terutama guru panik karena kita ada gedung lantai dua," ujar Arifana saat diwawancarai, Senin 08 Juni 2026.

Setelah sempat mereda dan para siswa sempat kembali naik ke ruang kelas, guncangan ketiga kembali datang mendadak. Suasana kembali riuh oleh teriakan histeris dari para guru yang bergegas memerintahkan anak-anak untuk kembali turun menyelamatkan diri.

Di tengah situasi darurat tersebut, para orang tua murid mulai berdatangan ke sekolah dengan raut wajah cemas. Sebagian lainnya yang belum bisa datang langsung berbondong-bondong menghubungi pihak madrasah via pesan singkat WhatsApp untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.

Melihat kepanikan yang terjadi, pihak manajemen MTs 1 Biau langsung mengambil kebijakan diskresi demi keselamatan dan ketenangan bersama.

"Kebijakan kami, silahkan Bu kalau mau dijemput anaknya. Insyaallah pembelajaran akan dilanjutkan lagi besok," tutur Arifana.

Beruntung, pelaksanaan ujian utama di madrasah tersebut sudah selesai dilakukan. Siswa yang hadir pada hari itu mayoritas adalah mereka yang tengah mengikuti program pembelajaran remedial dan menyelesaikan tunggakan tugas. Kehadiran siswa pun dilaporkan hanya sekitar 50%, sehingga proses evakuasi dan penjemputan mandiri oleh orang tua dapat berjalan lebih tertib dan meminimalisir penumpukan massa.

Merespons status waspada pasca-gempa di Kabupaten Buol, Arifana mengimbau rekan-rekan sesama pendidik, khususnya di tingkat pendidikan yang lebih rendah seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD), untuk tidak larut dalam kepanikan yang berlebihan.

Merujuk pada informasi BMKG bahwa pusat gempa berada sekitar 600 kilometer dari Palaleh, ia mengingatkan adanya jeda waktu krusial yang bisa digunakan untuk mitigasi dan persiapan.

"Rentang waktu dari gempa hingga ke tsunami itu ada jedanya, 3 menit. Kalau kita menunggu sampai 3 menit tidak ada tsunami, berarti insyaallah aman. Jadi insyaallah masih ada waktu bagi kita untuk prepare (bersiap)," pungkasnya menenangkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....