Jemi Yusuf: Laut Tolitoli Tak Boleh Lagi Jadi Tempat Sampah

  • 09 Jun 2026 14:10 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Peringatan Hari Laut Sedunia yang jatuh pada 8 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman pencemaran laut. Di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, persoalan sampah plastik masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama dari masyarakat maupun para pemangku kepentingan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bumi Kita Nusantara (BKN) Tolitoli mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil investigasi dan kegiatan evakuasi sampah laut yang dilakukan secara sukarela dan mandiri, setiap tahun ditemukan sekitar 35 hingga 45 ton sampah plastik yang dapat dievakuasi dari perairan laut Tolitoli. Sampah tersebut juga berasal dari sejumlah pulau di wilayah tersebut, antara lain Pulau Lutungan, Kabetang, Simatang, dan Lingayan.

Temuan tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar. Selain itu, perhatian serta langkah konkret dari berbagai pihak terkait dinilai masih perlu diperkuat guna mengatasi persoalan sampah plastik yang terus mencemari lingkungan pesisir dan laut.

Anggota DPRD Tolitoli Jemi Yusuf mengatakan bahwa perilaku masyarakat yang masih menjadikan laut dan badan-badan air seperti sungai, danau, serta rawa sebagai tempat pembuangan sampah menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya pencemaran lingkungan. Menurutnya, perubahan perilaku harus terus didorong melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan.

“Dibutuhkan langkah nyata untuk terus mengampanyekan dan mensosialisasikan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, perlu upaya menghadirkan tempat sampah di setiap rumah, kompleks pertokoan, dan pasar agar sampah yang dihasilkan tidak berakhir di laut,” ujar Jemi Yusuf.

Ia menegaskan bahwa laut memiliki peran vital bagi kehidupan manusia karena menentukan iklim, menjaga keseimbangan ekosistem, mendukung perekonomian, serta menjadi sumber pangan bagi miliaran penduduk dunia. Namun, kondisi laut saat ini dinilai semakin memprihatinkan akibat berbagai tekanan yang terus meningkat dari aktivitas manusia.

Mengacu pada Laporan Penilaian Laut Dunia Ketiga (The Third World Ocean Assessment) yang diluncurkan pada 8 Juni 2026, krisis laut global semakin memburuk akibat perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran laut. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa pengelolaan sumber daya laut harus dilakukan secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Tidak boleh lagi kita memperlakukan laut seolah-olah kekayaannya tidak akan pernah habis. Kita harus membangun hubungan baru dengan laut yang berlandaskan ilmu pengetahuan, hukum internasional, dan tanggung jawab bersama antarnegara, antarsektor, serta antargenerasi,” kata Jemi. Ia menambahkan, keberhasilan Konferensi Laut Ketiga tahun 2025 serta mulai berlakunya perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut di Luar Batas Negara pada tahun ini menjadi bukti bahwa kerja sama global sangat mungkin dilakukan. Pada Hari Laut Sedunia 2026, seluruh elemen masyarakat diajak bergerak bersama dengan tekad kuat untuk menjaga kelestarian laut demi masa depan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....