Literasi Digital Kunci Utama Menangkal Hoaks Media Sosial

  • 10 Feb 2026 09:48 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Maraknya penyebaran hoaks di era media sosial dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi merusak kualitas informasi publik. Informasi palsu dengan judul provokatif kerap menyebar cepat melalui berbagai platform digital tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.

Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tengah Temu Sutrisno dalam Dialog bersama dengan RRI pada Selasa, 10 Februari 2026 menegaskan bahwa hoaks menjadi tantangan serius bagi dunia jurnalistik dan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa rendahnya literasi media membuat sebagian pengguna media sosial mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Dia mengatakan masih banyak yang hingga saat ini masyarakat belum bisa menyeleksi informasi yang beredar luas di era media sosial saat ini.

"Seringkali orang tidak bisa membedakan mana informasi benar, mana informasi yang sesat dan menyesatkan." ujarnya.

Sutrisno juga menjelaskan, ada perbedaan yang jelas antara media pers dan non pers. Dimana media pers itu diatur oleh UU Pers yakni UU no.40 tahun 1999. Sedangkan media non-pers itu pengaturannya di UU ITE.

"Sebetulnya rezimnya sangat berbeda, bahwa media Pers itu diatur oleh UU Pers, sedangkan media sosial diatur oleh UU ITE." Jelas Sutrisno.

Sementara itu, akademisi dari Universitas Tadulako di Palu DR. Mochtar Marhum merasa prihatin melihat kondisi saat ini. Di satu sisi masyarakat menggunakan platform media sosial untuk berinteraksi sosial.

"Saya merasa prihatin juga. Di satu sisi, media sosial untuk masyarakat berkomunikasi. Masih banyak masyarakat tidak memperhatikan sumber informasi. Terkadang tidak melakukan secara bijak penyaringan informasi sebelum membagikannya." ungkapnya.

Baik Sutrisno dan DR. Mochtar Marhum sepakat memang sebagai penangkalan berita tidak benar alias hoaks harus melakukan upaya seperti pemberian edukasi literasi digital yang harus dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui institusi pendidikan maupun komunitas masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara media, akademisi, dan organisasi profesi seperti PWI menjadi kunci dalam melawan hoaks di era media sosial saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....