Sagu, Penguatan Desa dan Kemandirian Pangan
- 08 Sep 2026 15:15 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Di Maluku Utara, sagu bukan sekadar pangan tetapi bagian dari ingatan, budaya, dan kehidupan masyarakat. Dahulu, hamparan pohon sagu menjadi sumber pangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, perubahan zaman perlahan menggeser kedudukannya. Beras, mi instan, roti, dan berbagai pangan modern semakin mendominasi meja makan sementara sagu mulai terlupakan, bahkan oleh generasi muda.
Di Desa Tuada, Halmahera Barat, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Sagu yang selama ini dipandang sebagai pangan tradisional dapat dihidupkan kembali sebagai sumber pangan utama, bernilai ekonomi, dan simbol kemandirian desa. Menguatkan sagu berarti menjaga pangan, budaya, dan masa depan masyarakat.
Selama ini, proses pengolahan sagu masyarakat masih menghadapi sejumlah keterbatasan terutama terkait ketersediaan air bersih, kebersihan peralatan, lingkungan produksi, proses pengeringan, dan penyimpanan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena air merupakan salah satu komponen penting dalam proses pengolahan pangan. Air yang digunakan untuk mencuci, mengekstraksi, maupun membersihkan peralatan harus memiliki kualitas yang memadai agar tidak menjadi sumber kontaminasi.
Oleh karena itu, teknologi dalam pengolahan pangan tidak dapat dipisahkan dari penerapan prinsip kebersihan dan keamanan pangan. Selain memperhatikan kualitas air, proses pengeringan juga menjadi salah satu titik penting dalam menjaga mutu sagu.
Pengeringan secara terbuka memiliki risiko terpapar debu, kotoran, serangga, maupun kontaminan dari lingkungan sekitar. Metode pengeringan menggunakan tirai plastik UV sebagai salah satu bentuk teknologi tepat guna yang dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat.
Penggunaan tirai plastik UV dirancang untuk menciptakan lingkungan pengeringan yang lebih terlindungi sekaligus membantu proses pengeringan berlangsung lebih terkontrol. Pengeringan juga merupakan tahapan strategis dalam menghasilkan sagu kering yang memiliki umur simpan lebih panjang.
Penguatan Desa
Sagu sebagai pangan lokal dan masyarakat desa tentu saja memiliki keterkaitan yang erat. Dalam mendorong penguatan desa berbasis pangan lokal tentu saja teknologi menjadi salah satu unsur utama di dalamnya.
Peran perguruan tinggi memiliki ruang besar di sana. Sebagai unsur masyarakat, perguruan tinggi mampu mendorong pendekatan teknologi agar dapat digunakan serta mendorong masyarakat memelihara peralatan dan teknologi yang terkandung di dalamnya.
Keberhasilan program penguatan desa tidak hanya dilihat dari tersedianya peralatan tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu mengoperasikan, memahami, dan menerapkan teknologi tersebut secara berkelanjutan,
Pendekatan partisipatif diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki oleh masyarakat sekaligus memperkuat keberlanjutan kegiatan setelah program pendampingan selesai.
Kemandirian Pangan
Produksi pangan lokal seperti sagu dalam mendukung kemandirian pangan tentu memiliki berbagai dimensi. Kebersihan, kualitas, dan tentu saja pangan yang dihasilkan dapat memiliki nilai jual yang baik.
Sagu tidak dalam posisi sebagai pangan tradisional namun, harus pula dikembangkan menjadi komoditas yang ekonomis dan memiliki potensi pasar. Keamanan, kebersihan, mutu, dan legalitas pangan menjadi bagian penting di dalamnya.
Pada akhirnya, penguatan sagu di Desa Tuada bukan sekadar tentang meningkatkan produksi. Di sana ada upaya membangun rantai nilai pangan lokal yang mampu memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat.
Dari Desa Tuada, sagu mulai bergerak dari komoditas tradisional menuju pangan lokal yang lebih bersih, higienis, bernilai tambah, memiliki identitas, dan berpotensi berdaya saing. Penguatan kemandirian pangan dapat dimulai dari desa dengan mengembangkan sumber daya yang telah dimiliki masyarakat, memperkuatnya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pihak.

Oleh : Prof. Dr. Hamidin Rasulu, STP., MP
(Akademisi Universitas Khairun, Ternate)
*) Tulisan atau artikel opini yang dipublikasikan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Hak cipta dan pertanggungjawaban dari tulisan, berita, atau artikel yang dikutip dari media lain atau ditulis sendiri sepenuhnya dipegang penulis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....