Donna Donna: Lagu yang Menjadi Ingatan Kolektif Kemanusiaan
- 13 Agt 2026 13:35 WIB
- Ternate
Oleh : Efrial Ruliandi Silalahi
(Founder Hegemoni Lex)
RRI.CO.ID, Ternate - Donna Donna berasal dari lagu Yiddish berjudul Donna Donna yang digubah oleh Sholom Secunda dengan lirik Aaron Zeitlin pada tahun 1941 untuk teater Yiddish. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz.
Sejak itu, lagu ini terus hidup, melintasi bahasa, generasi, dan konteks sosial. Dua dekade kemudian, Joan Baez membawakan Donna Donna dalam bahasa Inggris.
Di tangannya, lagu itu bertransformasi menjadi nyanyian protes, sebuah seruan kebebasan yang bergema di tengah gelombang perlawanan 1960-an. Dari demonstrasi hak-hak sipil, penolakan atas perang Vietnam, hingga suara generasi muda yang menuntut dunia yang lebih adil.
Bersama Bob Dylan dan para musisi folk lainnya, Donna Donna menjadi bagian dari ingatan kolektif sebuah zaman melalui suaranya.
Lagu ini kelihatan sederhana di permukaan namun, mengandung pesan yang teramat dalam dan penuh luka.
Joan Baez menyanyikannya bukan semata-mata sebagai lagu rakyat tetapi sebagai alegori sosial-politik dan eksistensi yang kuat. Liriknya adalah pengakuan atas penderitaan, sebuah renungan tentang kemerdekaan, dan seruan untuk memilih antara menjadi korban atau menjadi bebas.
Lagu ini hadir sebagai kritik struktural terhadap penindasan dan sebagai nyanyian eksistensialis tentang keberanian untuk memilih jalan hidup sendiri.
Di tangan Joan Baez, Donna Donna tumbuh menjadi nyanyian yang tenang dan lembut.
Namun, di balik petikan arpeggio gitar akustiknya yang sederhana, vokal sopran yang mengalir seperti sungai pegunungan: jernih, sejuk, dan menyimpan gema yang dalam. Suara itu tidak memaksa, tetapi menghampiri dengan lirih, seperti bisikan yang lama tertahan.
Lagu ini tidak menyebutkan secara eksplisit konteks sejarah atau ideologis tertentu tapi latar belakang penciptaannya serta pilihan Joan Baez untuk menyanyikannya memberi bobot makna tambahan. Donna Donna ala Joan Baez, menjelma menjadi elegi perlawanan.
Bukan perlawanan bersenjata melainkan perlawanan dalam kesadaran: tentang pilihan menjadi manusia yang sadar, merdeka, dan tidak menyerah pada nasib yang sudah disusun oleh kekuasaan. Ia adalah sosok yang selalu menjadikan musik sebagai medium perjuangan.
Sebagai aktivis hak sipil, anti-perang, dan pendukung hak-hak kelompok tertindas, ia juga menyuarakan kemarahan dengan lembut. Suaranya jernih tapi menusuk dan Donna Donna menjadi salah satu lagu yang menggabungkan estetika dengan etika perlawanan.
Dalam membawakan lagu ini Joan Baez tidak sedang menyanyikan kisah tragis namun, ia sedang membangunkan kesadaran. Lagu ini menjadi pengingat bahwa dunia dipenuhi sapi-sapi yang sedang digiring dan hanya sedikit yang memilih untuk menjadi burung.
Dalam gerakan sosial, baik itu anti perang, hak sipil, feminisme, atau gerakan lingkungan, selalu ada individu yang memilih untuk menyimpang dari jalur gerobak. Para burung dalam lagu ini digambarkan adalah mereka yang melawan arus yang tidak tunduk pada penaklukan simbolik dan struktural.
Joan Baez telah menunjukkan bagaimana seni dan perjuangan bisa menyatu. Dalam setiap nada dan kata yang ia nyanyikan, ada denyut perlawanan yang lembut tapi kuat.
Donna Donna adalah bukti bahwa musik bisa menjadi medan tempur ideologis. Dan jika hari ini kita masih merasa diri kita seperti anak sapi yang terikat, digiring, dan tidak tahu ara, maka saatnya kita mengingat lagu ini. Bukan untuk bersedih, tapi untuk bangkit!
Makna Dibalik Lagu Donna Donna
Lirik aslinya adalah Donna Donna, yang dalam bahasa Ibrani berakar dari Adonai. Artinya manusia yang meminta pertolongan Tuhan (berdoa).
Metafora yang dipakai dalam lirik Donna Donna adalah anak sapi atau sapi, binatang dalam tradisi umat Yahudi menjadi simbol suci. Liriknya sederhana tetapi sarat simbol: seekor anak sapi yang diikat, digiring ke rumah jagal, dan tak berdaya menuju kematian.
Sementara di atasnya, seekor burung walet melayang bebas di langit, menolak tunduk pada arah angin. Narasi ini dikaitkan dengan manusia yang pasrah dan tak bisa melawan, berhadapan dengan kebebasan yang mustahil diraih.
Banyak penafsir mengaitkannya dengan tragedi Holocaust dengan pengalaman kolektif bangsa Yahudi yang tidak berdaya di hadapan kekuasaan yang menindas.
Kekuatan lagu ini terletak pada kesederhanaan metaforanya yang membuatnya melampaui satu peristiwa sejarah.
Anak sapi dan burung walet itu tidak berhenti sebagai simbol suatu kaum tetapi menjadi gambaran tentang kondisi manusia itu sendiri. Irama folknya yang bersahaja membuat lagu ini mudah dirangkul oleh berbagai gerakan rakyat.
Ia dinyanyikan dalam demonstrasi, perlawanan sipil yang penuh harap. Bahkan di Korea Selatan pada tahun 1975, lagu ini sempat dilarang karena dianggap subversif, sebuah ironi yang justru menegaskan daya gugahnya.
Lagu Donna Donna membuka ruang tafsir yang lebih sunyi dan personal. Ia tidak hanya berbicara tentang penindasan eksternal, tetapi juga tentang cara manusia memaknai keberadaannya sendiri, tentang pilihan, kesadaran, dan kebebasan yang sering kali disangkal.
Di sini, suara petani mungkin terdengar dingin dan menyakitkan. Ia tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai sesuatu yang wajar.
Anak sapi baginya hanyalah anak sapi, makhluk yang sudah memiliki fungsi, nasib, dan akhir yang ditentukan.
Pertanyaan sekaligus kritik bagi kita “Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?” Pertanyaan ini terdengar tajam. Ia memantulkan cara dunia sering berbicara kepada mereka yang terikat oleh keadaan: seolah-olah keterikatan itu adalah pilihan mereka sendiri.
Dalam nada inilah lagu ini bersentuhan dengan persoalan eksistensi. Anak sapi melambangkan mereka yang hidup dalam penerimaan pasif, yang bergerak mengikuti rel tanpa tahu di mana berakhir.
Ia diikat bukan hanya oleh tali, tetapi oleh keyakinan bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk terbang. Sebaliknya, burung walet digambarkan sedang terbang melayang di langit.
Kebebasannya tidak retoris; ia nyata, sunyi, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Terbang bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk mengembangkan sayap.
Narasi keduanya bukan sekadar tentang kuat dan lemah, tetapi tentang kesadaran. Tentang apakah seseorang melihat dirinya sebagai objek dari keadaan atau sebagai subjek yang masih memiliki ruang untuk memilih.
Di titik inilah Donna Donna terasa seperti ajakan untuk berhenti semata-mata meratapi nasib, dan mulai menyadari posisi diri dalam dunia. Bukan semua belenggu bisa dipatahkan tetapi tidak semua belenggu datang dari luar.
Namun, lagu ini tidak berhenti pada romantisme kebebasan. Ia menyisakan kegelisahan yang lebih dalam. Tidak semua orang memiliki sayap. Tidak semua situasi memungkinkan kita terbang.
Di sinilah pertanyaan menjadi semakin pelik: apakah kebebasan selalu berarti melawan? Stoa mengenal ungkapan amor fati yang bermakna mencintai takdir. Bukan menyerah, melainkan menerima kehidupan sepenuhnya, dengan kesadaran dan kejernihan. Menerima tetapi memahami batas antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita tanggung.
Lagu Donna Donna berdiri di antara dua ketegangan: antara dorongan untuk terbang dan keharusan untuk memahami tanah tempat kita berpijak. Lagu ini tidak memberi jawaban final.
Ia hanya memperlihatkan langit dan tali, sayap dan gerobak lalu membiarkan kita bertanya pada diri sendiri, di posisi mana kita berdiri hari ini. Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan abadi lagu ini.
Ia tidak memaksa kita menjadi burung tetapi juga tidak membiarkan kita pasrah menjadi anak sapi tanpa pernah bertanya mengapa. Donna Donna tidak berhenti pada ratapan.
Liriknya juga menyajikan narasi yang penting: “Tetapi siapa pun yang mencintai kebebasan, seperti burung walet, telah belajar untuk terbang.” Ini adalah kalimat yang tidak hanya indah namun, mengandung makna eksistensi manusia itu sendiri.
Dalam pemikiran eksistensialisme seperti yang dikemukakan oleh Jean-Paul Sartre dan Viktor Frankl, manusia bukanlah makhluk yang sekadar menerima takdir tapi makhluk yang didefinisikan oleh pilihannya. Bahkan dalam situasi yang paling terbatas sekalipun masih ada ruang bagi kebebasan batiniah, yaitu kemampuan untuk memberi makna pada penderitaan.
Viktor Frankl, seorang psikiater Yahudi yang selamat dari Auschwitz, menulis dalam bukunya Man’s Search for Meaning bahwa bahkan di dalam penderitaan yang paling brutal, manusia masih memiliki kebebasan terakhir: kebebasan untuk memilih responsnya terhadap penderitaan. Inti dari eksistensialisme humanis yaitu manusia tidak bisa memilih kondisi awal kehidupannya, tetapi ia bisa memilih cara menjalaninya.
Dalam konteks ini, Donna Donna adalah nyanyian tentang pilihan eksistensi: apakah kita pasrah dan berjalan menuju penyembelihan sosial, atau kita memilih untuk membebaskan diri dan terbang.
*) Tulisan atau artikel opini yang dipublikasikan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Hak cipta dan pertanggungjawaban dari tulisan, berita, atau artikel yang dikutip dari media lain atau ditulis sendiri sepenuhnya dipegang penulis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....