Pasar Gamalama: Masa Lalu yang Kehilangan Jejak
- 23 Mei 2026 16:37 WIB
- Ternate
Oleh: Syahril Muhammad, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Maluku Utara
Dulu, orang Ternate menyebutnya “Pasar Gamalama”. Bukan sekadar tempat jual-beli. Ini adalah jantung kota, ruang pertemuan, tempat gosip lahir, harga ditentukan dan kisah hidup dipertukarkan. Di bawah atapnya yang tua, pedagang dari Jailolo bertemu pedagang dari Bacan. Nelayan membawa ikan, petani membawa pala, anak sekolah berhenti membeli pisang goreng sepulang sekolah.
Pasar Gamalama adalah memori kolektif. Bangunan tua itu sudah diratakan. Atas nama penataan, atas nama modernisasi, atas nama “yang baru lebih baik” martabat tempat itu dibongkar bersama tembok dan tiang kayunya. Kebijakan pembongkaran mengubah situs hidup menjadi situs mati: membangun gedung tanpa pergerakan ekonomi warga kota alias kosong.
Kita sering lupa, bahwa kota tidak hanya dibangun dari semen dan baja. Kota dibangun dari ingatan. Dan ketika sebuah tempat bersejarah dihapus, yang hilang bukan hanya batu bata, tetapi juga cara orang mengingat dirinya sendiri. Pasar Gamalama kehilangan citra, kehilangan fungsi, kehilangan martabat.
Dulu ruang ekonomi rakyat kecil. Sekarang menjadi ruang kosong yang menunggu investor. Dulu saksi pasang-surut ekonomi Ternate. Sekarang menjadi lubang di peta mental warga kota. Anak-anak yang lahir tahun 2020-an tidak akan pernah tahu bagaimana riuhnya pasar itu saat pagi. Bagi mereka, sejarah Ternate dimulai dari mall, bukan dari pasar. Alasannya selalu sama: “bangunan tua tidak layak, tidak aman, tidak representatif”.
Pertanyaannya: sejak kapan layak diukur hanya dengan kaca dan lift? Sejak kapan representatif berarti harus menyerupai Jakarta atau Makassar? Kota yang beradab adalah kota yang mampu merawat yang tua sambil menyambut yang baru. Revitalisasi bukan berarti pembongkaran. Peremajaan bukan berarti pemusnahan.
Kita tidak butuh lagi pasar yang megah jika ia mencabut akar. Kita butuh pasar yang sederhana, tapi tetap hidup, tetap bernafas, tetap punya nama. Di banyak kota di dunia, pasar tua justru dirawat menjadi ikon. Pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Apung di Banjarmasin, Pasar Santa di Jakarta. Pasar tidak dibongkar. Mereka dihidupkan kembali.
Sayangnya Pasar Gamalama sudah hilang ditelang perencanaan dan tata ruang, sekarang terganti dengan Plaza Gamalama. Bangun kembali dengan mentiadakan desain yang menghormati arsitektur asli. Biarkan generasi baru tahu: di sinilah dulu denyut nadi Ternate berdetak. Jika kita terus membongkar tanpa mencatat, kita akan jadi kota tanpa memori.
Dan kota tanpa memori adalah kota yang mudah diperjualbelikan, karena warganya sendiri tidak tahu apa yang harus dipertahankan. Membangun Ternate tidak salah. Tapi membangun dengan menghapus jejak, itu sama saja dengan mencoret nama sendiri dari sejarah. Biarkan Pasar Gamalama kembali bersuara. Bahkan jika hanya lewat cerita, setidaknya jangan biarkan ia mati dalam diam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....