Membangun Kota Ternate tanpa Menghilangkan Sejarah
- 20 Mei 2026 08:58 WIB
- Ternate
Oleh:Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Maluku Utara, Syahril Muhammad
Ternate sedang berkembang. Setiap hari tiang pancang dipasang, jalan diperlebar dan area baru dibuka. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kota ini hidup. Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu pertanyaan yang sering kita abaikan: Untuk siapa kita membangun, dan warisan apa yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang?
Kota yang tidak memiliki sejarah ibarat manusia yang kehilangan ingatan.
Mereka dapat bergerak, tetapi tidak mengetahui asal usulnya dan tujuan ke mana harus pergi. Ternate buknalah kota biasa. Ia merupakan bekas pusat peradaban rempah dunia, tempat sejumlah bangsa bertemu, berperang, berdagang dan berkolaborasi. Jejak sejarah itu masih terlihat di Benteng Tolukko, Benteng Oranje, Istana Kesultanan, kawasan-kawasan tua, dan nama-nama kampung tua yang mengandung kisah-kisah penting.
Saat ini, jejak tersebut dalam bahaya. Bukan karena konflik, melainkan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan sejarah. Situs sejarah dihancurkan demi pembangunan ruko. Area cagar budaya menyusut demi lahan parkir. Ruang publik yang dulunya menjadi tempat upacara adat kini beralih fungsi menjadi ruang komersial.
Kita sedang menggambar ulang sejarah Ternate dengan alat berat. Saya tidak anti pembangunan. Sejarawan bukanlah pelindung musium yang menolah perubahan.
Sejarawan bukanlah pelindung museum yang menolak perubahan. Kami menyadari bahwa kota perlu berkembang, ekonomi harus terus bergerak, dan pemuda perlu mendapatkan lapangan pekerjaan. Namun, kemajuan sejati adalah kemajuan yang tetap menghubungkan dengan akarnya.
Membangun tanpa mengenang sejarah sama dengan membangun di atas pasir. Oleh karena itu, membangun Kota Ternate tanpa menghilangkan sejarah berarti tiga hal:Pertama, tentukan batas yang tegas.
Area cagar budaya, situs bersejarah, dan ruang adat harus diatur dalam RTRW sebagai zona perlindungan yang mutlak. Bukan hanya “boleh dibangun dengan kajian”, tetapi “tidak boleh terganggu”. Peta sejarah harus sama pentingnya dengan peta investasi.
Kedua, jadikan sejarah sebagai modal dasar pembangunan.
Benteng, istana, dan desa tua bukanlah beban. Itu adalah aset pariwisata, identitas, dan kebanggaan. Negara-negara seperti Singapura, Kyoto, bahkan Yogyakarta berkembang justru karena mereka menjaga sejarahnya. Wisatawan tidak datang ke Ternate untuk melihat pusat perbelanjaan yang sama dengan kota lain. Mereka datang untuk merasakan atmosfer Kesultanan, untuk menyentuh dinding yang pernah dihuni oleh Portugis, Spanyol, dan Belanda.Ketiga, libatkan masyarakat setempat dan sejarawan sejak fase perencanaan awal.
Jangan tunggu sampai proyek jalan dimulai, baru lakukan sosialisasi. RTRW 2026-2046 adalah dokumen yang mencakup 20 tahun. Jika kita salah dalam menggambar skema saat ini, maka dua dekade ke depan kita akan menyesal. Ruang untuk berdiskusi harus dibuka, bukan ditutup dengan alasan efisiensi. Ternate memiliki kesempatan untuk menjadi kota modern yang tetap mencerminkan sejarahnya.
Sebuah kota Pelabuhan yang menyambut investasi, tetapi juga menghargai sejarah. Kota di mana orang yang berjalan di Kalumata dapat masih menikmati pemandangan laut yang pernah dilihat oleh Sultan Baabullah. Kota di mana kaum muda yang berkumpul di malam hari tahu bahwa di bawah mereka terdapat jejak pertempuran, perjanjian, dan peradaban besar. Sejarah tidak meminta kita untuk berhenti membangun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....