Dari Perempuan Untuk Semesta: Pesan Menyambut 1 Muharram

  • 26 Jun 2025 19:23 WIB
  •  Ternate

Oleh: Rosita Alting (Ketua Muslimat NU Maluku Utara, Pengurus KICI Malut, dan Dosen IAIN Ternate)

KBRN, Ternate: "ADAKAH kontribusi perempuan dalam peristiwa Hijrah?” Pertanyaan ini kembali muncul. Karena setiap awal Muharram tiba, atau lebih dikenal dengan perayaan hijrah, identik dengan kisah Nabi Muhammad SAW bersama sahabat laki-laki. Seperti Abu Bakar Assiddiq, Ali bin Abi Thalib, Amin bin Fuhairah dan Abdullah bin Uraitid, sosok non- Muslim selaku "guide" penunjuk jalan.

Tulisan ini diawali dengan, menunjukan bukti historis peran perempuan dalam hijrah, kemudian mendudukan makna sejati hijrah, berikutnya hijrah dan ekofeminisme dan diakhiri dengan langkah kongkrit perempuan kaitan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ini tentu sebagai respon terhadap isu global tentang “Environment ethics,” termasuk isu lokal Maluku Utara seperti fenomena banjir, kesadaran sampah , pembuangan limbah industri dan eksplorasi tambang.

Secara historis, fakta menunjukan bahwa selain sahabat laki-laki, ada juga sosok-sosok perempuan pemberani yang punya peran saat hijrah. Sosok itu adalah Asma binti Abu Bakar, Ummu Salamah, dan Aisyah Ra.

Asma adalah sosok perempuan, yang sendirian menembus kegelapan malam, mendaki bukit, curam nan tajam, dalam keadaan sedang hamil. Ia ditampar oleh Abu Jahal karena diduga, terlibat dalam penyembunyian Nabi Muhammad. Asma’ akhirnya dengan selamat melahirkan bayinya. Sang anak pertama dari komunitas Muslim di Madinah begitu sampai di kota tersebut.

Begitu juga dengan Ummu Salamah, bermodalkan kepasrahannya pada Tuhan. Rela berpergian bersama anaknya, meski menghadapi berbagai resiko. Di tengah perjalanan, wanita pemberani itu bertemu dengan "Utsman bin Talhah Abdari." Akhirnya hijrahnya didampingi oleh ‘Utsman' dengan penuh hormat hingga sampai di tujuannya.

Sementara Aisyah Ra, ketika Nabi memilih Ayahnya (Abu Bakar Ra) untuk menemaninya di Gua Tsur. Aisyah dipercaya untuk membawakan 2 ekor unta untuk Rasulullah dan Abu Bakar, pada tiga malam kemudian. Ini hanya snapshot kisah “heroik” dari kaum waniita Muslimah dalam peristiwa hijrah.

Apa makna sejati hijrah? Tentu Hijrah yang dialami Rasulullah dahulu, bukan hanya bernilai historis semata, yakni sekedar berpindah tempat. Hijrah sejati adalah ketika seseorang berproses menjadi muslim dan muslimah yang total. Standarnya telah banyak disabdakan Nabi. Yaitu menjadi versi diri yang terbaik sesuai dengan kemampuan, situasi, dan kondisi semangat zamannya.

Versi diri yang terbaik adalah bagaimana setiap orang dapat bermanfaat secara optimal dengan kadar kualitas masing-masing. Baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan kemaslahatan. Tidak seorangpun menjadi standar tunggal hijrahnya orang lain.

Karena itu dalam perspektif lebih luas, saya ingin menegaskan bahwa, fenomena hijrah bagi perempuan sering kali hanya diartikan secara instrumentatif melalui “simbolisme fisik” seperti busana atau penampilan tertentu. Ini terlalu disederhanakan karena lebih mementingkan tampilan luar, tetapi sesungguhnya bagi saya, juga harus transformasi batiniah atau mental.

Di satu sisi, bisa dimaklumi karena memang seperti yang disebutkan oleh Maria Martinigsih dalam karya “Jalan Pulang”, sebuah buku laris terbitan 2024. Bahwa busana yang menutupi tubuh perempuan adalah adalah tapak kehidupan. Jejak peradaban dapat dibaca dari "fashion dan tubuhnya," karena tubuh merekam perlakuan diri sendiri dan pihak lain, siapapun itu.

Kekerasan terhadap perempuan adalah senyap yang lenyap dalam kemajuan yang diagungkan sebagai penanda peradaban. Tubuh dan seksualitas perempuan senantiasa merjadi medan kontestasi paling kritis dan wilayah pertempuran paling keras dari berbagai kepentingan derita yang ditanggung tak bisa diuraikan oleh jutaan kata, karena ia bersemayam di keheningan terdalam samudra rasa.

Namun karena, kita memahami agama secara “paripurna” berarti mengerjakan kebajikan dalam semua aspek kehidupan, termasuk hubungan gender. Saya ingin menggaris bawahi, "menjadi versi diri yang terbaik untuk kemaslahatan," maka peran perempuan bukan hanya semata di wilayah "private domestik" semata, tapi juga di ranah publik, untuk kepentingan peradaban dan kelansungan hidup umat manusia. Dan salah satu diantaranya adalah tentang lingkungan hidup.

Peran perempuan dalam pelestarian lingkungan sangatlah krusial. Dan konsep hijrah juga dapat diinterpretasikan sebagai perubahan positif menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang sangat relevan dengan tanggung jawab perempuan sebagai penjaga keluarga dan lingkungan sekitar.

Ini menjadi penting, karena alam dan perempuan memiliki masalah yang sama. Keduanya sering hidup dalam dunia marjinal. Mungkin kadang tak bermaksud mendiskriminasi, namun kepentingan keduanya jarang dibahas dalam konteks yang lebih presisi. Kebutuhan alam untuk tumbuh, atau kepentingan perempuan untuk berperan lebih jauh.

Setidaknya itu yang mendasari munculnya gerakan ekofiminisme. Sebuah gerakan yang berusaha menghapus segala bentuk ketidakadilan bagi alam dan perempuan. Melihat berbagai persamaan tersebut. Ekofeminisme berusaha mengarusutamakan isu perempuan dan lingkungan. Gerakan ini juga menggali lebih mendalam korelasi antara keduanya.

Aksi memeluk pohon “Kehjri” di India adalah salah satu bentuk nyatanya. Perempuan India melakukan penyelamatan pohon-pohon keramat yang hendak ditebang dengan cara memeluknya, gerakan ini dikenal juga dengan gerakan Chipko. Gerakan ini tercatat sebagai gerakan penyelamatan lingkungan hidup pertama di dunia dan dimotori oleh kaum perempuan.

Gerakan Chipko menggambarkan pemahaman ekologi dan keberanian perempuan mempertahankan sesuatu yang amat dikeramatkan, yakni pohon "khejri" sebagai simbolisasi penting dari etika kerahiman.

Sri Latifa, seorang perempuan aktivis lingkungan mengungkapkan dalam kajiannya bahwa, pelibatan perempuan dalam isu lingkungan masih sangat minim. Padahal menurutnya, perempuan menjadi pihak paling sering berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan, “Program-program lingkungan biasanya diberikan kepada bapak-bapak. Tapi ternyata yang lebih banyak paham ibu-ibunya, karena harus berhadapan setiap hari. Misalnya masalah air atau sampah rumah tangga”.

Karena itu, menurut saya, kita harus mendorong semua pihak untuk melakukan apa yang disebut sebagai *Affirmative Action" guna menciptakan peluang dan pemahaman yang sama bagi perempuan dan laki-laki.

Langkah ini penting karena pada kenyataannya perempuan memiliki peran ganda dalam struktur sosial terutama di Indonesia. Mulai dari gerakan langsung seperti yang dilakukan perempuan India, pertanian, interaksi dengan alam dalam ranah rumah tangga, sampai yang paling sederhana namun krusial seperti penanaman nilai-nilai pelestarian lingkungan pada anak.

Pengarusutamaan isu perempuan dan lingkungan harus dilakukan dari diri sendiri. Menggalakkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan bisa awal dari langkah tersebut. DItengah isu “inferomental ethics,” pengurangan pemakaian kosmetik yang tidak ramah lingkungan bisa dilakukan. Pengolahan sampah rumah tangga juga dapat memberikan dampak positif bila dilakukan secara konsisten.

Beberapa solusi bahkan mampu memberikan nilai ekonomi lebih seperti bercocok tanam dihalaman sendiri. Dan juga alternatif lain. Akan tetapi perlu diingat bahwa, "affirmative action" dan langkah pengarustumaan kedua isu ini sebenarnya perlu dilakukan tidak hanya oleh dan kepada perempuan tetapi juga untuk laki-laki. “Karena terdapat masalah-masalah diskriminasi kepada perempuan maka sekarang memang lebih banyak ke perempuan. Akan tetapi tidak menghilangkan kebutuhan pemahaman dari keduanya”.

Beberapa waktu terakhir ini, Muslimat NU Maluku Utara, mempunyai perhatian dan dan "consern" melakukan aksi memungut sampah, bersih-bersih pantai dan menanam pohon dibeberapa titik-titik wilayah Maluku Utara. Namun, ke depan langkah-langkah kongkrit perempuan dan tanggung jawab dalam pelestraian lingkugan bisa dilakukan dengan:

  • Pertama, Pendidikan Keluarga

Perempuan memiliki peran sentral dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, dimulai dari hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan menghemat air.

  • Kedua, Pengelola Lingkungan Rumah Tangga

Perempuan secara tradisional dan terus-menerus terlibat dalam pengelolaan kebersihan rumah, penyediaan makanan bergizi, pengelolaan sampah, serta pemeliharaan tanaman untuk menciptakan lingkungan yang asri.

  • Ketiga, Inisiator dan Aktivis Lingkungan

Banyak perempuan yang menjadi tokoh inspiratif dalam perjuangan lingkungan, baik di tingkat komunitas maupun advokasi kebijakan, serta terlibat dalam program pemberdayaan perempuan untuk keberlanjutan.

  • Keempat, Perancang Strategi Pengurangan Risiko Bencana

Perempuan dapat memanfaatkan keahlian dan pengetahuan mereka untuk merancang strategi mitigasi bencana yang lebih efektif, mengingat dampak bencana yang seringkali lebih merugikan perempuan.

Lalu bagaimana kaitannya dengan konsep hijrah?

  • Pertama, Perubahan Gaya Hidup Positif: Konsep hijrah dapat dimaknai sebagai perpindahan menuju keadaan yang lebih baik, termasuk mengadopsi kebiasaan hidup yang lebih peduli lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilah sampah.
  • Kedua,Tanggung Jawab dan Ketaatan: Dalam konteks spiritual, ajaran agama juga mendorong manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai amanah, sehingga perempuan yang berhijrah dalam artian spiritual juga diharapkan dapat merefleksikan kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain upaya tersebut, perempuan juga bisa bergabung dengan komunitas ataupun organisasi yang mendukung pelestarian lingkungan, ataupun jika tidak ada kita bisa mendirikan komunitas pencinta lingkungan agar semakin banyak perempuan dan masyarakat mengetahui akan pentingnya menjaga lingkungan dalam kehidupan. Peran perempuan sangat diperlukan demi terjaganya bumi dari kerusakan-kerusakan material maupun gaya hidup bumi.

Pada akhirnya, isu lingkungan hidup tidak hanya terfokus pada lingkungan fisik biologis saja, namun juga lingkungan sosiokultural. Membahas tentang budaya berarti menyentuh tentang gagasan, nilai, adat istiadat, dan adat istiadat masyarakat setempat. Oleh karena itu, perlindungan lingkungan juga memerlukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pola pikir masyarakat tidak hanya perempuan saja.

Cara berpikir yang lebih ‘memahami’, humanistik, dan empati ini juga diamini oleh para ekofeminis yang berupaya mencapai terobosan dalam keadilan terhadap alam. Dengan menggunakan analogi sosial bahwa akan selalu dimitoskan dengan perempuan.

Pola pikir ekofeminis adalah bersikap baik terhadap alam, memahami alam, dan mengembangkan empati terhadap alam, dengan mengembangkan kesetaraan dan keadilan terhadap alam, tanpa mengeksploitasi atau merugikan alam, ini tidak bertentangan dengan gagasan mengeksploitasi dan merusak alam.

Momentum 1 Muharram dengan peristiwa hijrah Nabi, memberikan pencerahan kepada kita, bahwa kehadiran Nabi adalah rahmatalil alamin, yang bukan hanya untuk kaum laki-laki, tapi juga untuk perempuan. Bukan hanya untuk Islam, tapi juga umat manusia secara keseluruhan. Termasuk tanaman, tumbuhan, benda mati maupun benda hidup yang menjadi lingkungan manusia. Demikian bagian dari pesan "Dari Perempuan Untuk Semesta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....