Diterjang Ombak, Bidan Muda Ini Jadi Penyelamat Ibu dan Bayi di KM Cantika Lestari 99
- 04 Agt 2026 21:00 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Sanana – Tangisan seorang bayi perempuan memecah keheningan dini hari di atas Kapal Motor (KM) Cantika Lestari 99. Di tengah perjalanan laut menuju Kota Ambon, Provinsi Maluku, sebuah perjuangan hidup dan mati baru saja berakhir dengan kabar bahagia.
Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 01.22 WIT, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat di atas kapal. Di balik kelahiran tersebut, ada sosok bidan muda asal Desa Dofa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, yang tetap berdiri teguh menjalankan tugasnya meski harus berhadapan dengan ombak dan rasa mabuk laut.
Ia adalah Sudarti Arman, bidan berusia 28 tahun yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana kurang lebih sudah selama 4 tahun 6 bulan dan hingga kini masih berstatus sebagai tenaga honorer, tetapi tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap pasien tidak pernah surut.
Sudarti merupakan salah satu bidan RSUD Sanana yang dipercaya mendampingi seorang pasien ibu hamil yang dirujuk menuju RSUP dr. J. Leimena Ambon, Maluku.
Perjalanan menuju Ambon yang seharusnya menjadi perjalanan rujukan medis berubah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan Sudarti.
Di tengah pelayaran, kondisi sang ibu semakin mengkhawatirkan. Kontraksi terus meningkat, dari pembukaan dua hingga akhirnya mencapai pembukaan sepuluh. Tanda-tanda persalinan semakin jelas, sementara kapal masih berada di tengah perjalanan. Situasi tersebut membuat Sudarti harus mengambil keputusan cepat.
Ia tidak memiliki pilihan untuk menunggu hingga kapal tiba di Ambon. Keselamatan ibu dan bayi menjadi prioritas utama.
Di tengah guncangan kapal akibat hantaman ombak, Sudarti tetap mendampingi sang ibu. Rasa cemas bercampur tegang menyelimuti dirinya. Bahkan, ia sendiri harus berjuang melawan mabuk laut yang dirasakan selama perjalanan. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya mengabaikan tugas.
"Beta (saya) punya perasaan tercampur aduk, kasian. Ada beta pung rasa cemas dan paling tegang pas di perjalanan, tapi beta paling rasa kasihan lihat ade bayi pung mama kesakitan,” ucap Sudarti, Selasa 4 Agustus 2026.
Dalam situasi penuh tekanan itu, Sudarti yang juga sebagai anak pertama dari tiga bersaudara itu berusaha untuk tetap tenang. Ia menyadari bahwa keselamatan seorang ibu dan bayi berada dalam tanggung jawabnya. Doa dan keyakinan menjadi bagian dari kekuatannya.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 01.22 WIT, perjuangan panjang tersebut mencapai puncaknya. Tangisan bayi perempuan terdengar di dalam KM Cantika Lestari 99.
Suara tangisan itu menjadi penanda bahwa seorang manusia baru telah lahir ke dunia dengan selamat.
Bagi Sudarti, suara tangisan tersebut bukan sekadar suara seorang bayi. Tangisan itu menjadi jawaban atas kecemasan, ketegangan, kelelahan, dan perjuangan yang ia rasakan sepanjang perjalanan.
“Setelah ade lahir dengar ade pung suara manangis, langsung beta pung rasa lelah fisik seketika langsung hilang,” katanya.
Kebahagiaan Sudarti semakin lengkap setelah memastikan kondisi ibu dan bayinya dalam keadaan baik.
Ia bahkan terus memanjatkan rasa syukur ketika memastikan sang ibu dapat melewati proses persalinan tanpa mengalami pendarahan.
“Sampe nanti ade mama pung dodomi lahir deng seng (tidak) ada pendarahan, beta seng barenti mengucapkan syukur di dalam hati ini dan juga ada rasa bangga ketika beta jadi jembatan penyelamat ade bayi deng ade bayi pung mama,” ujarnya.
Bagi seorang bidan, kelahiran bukan hanya tentang membantu seorang ibu melahirkan. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan dua nyawa sekaligus dapat melewati proses tersebut dengan selamat.
Apa yang dilakukan Sudarti menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang tenaga kesehatan tidak selalu berlangsung di ruang bersalin yang nyaman dan lengkap. Dalam keadaan tertentu, pengabdian itu justru harus dilakukan di tempat yang tidak terduga, bahkan di tengah perjalanan laut dan kondisi yang penuh tantangan.
Bayi perempuan yang lahir dalam perjalanan tersebut merupakan buah hati pasangan suami istri Amrin Teapon dan Mediyani Bachmid. Kehadiran sang buah hati kemudian diberi nama Azzura Cantika Lestari Teapon.
Nama itu kini menjadi bagian dari kisah kelahirannya yang tidak biasa lahir di tengah perjalanan laut, dengan ombak yang mengiringi, serta perjuangan seorang bidan muda yang memilih tetap bertahan menjalankan tugasnya hingga ibu dan bayi berhasil melewati proses persalinan dengan selamat.
Di sanalah Sudarti kembali menemukan makna dari profesinya: hadir ketika dibutuhkan, tetap tenang ketika keadaan genting, dan menjadi jembatan keselamatan bagi ibu serta bayi yang dipercayakan kepadanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....