Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak melalui Penanganan HIV yang Komprehensif

  • 13 Apr 2025 13:38 WIB
  •  Ternate
  • Oleh: Andi Sakurawati (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makassar)
  • KBRN, Ternate: HIV (Human Immunodeficiency Virus) masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan global, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data UNAIDS 2023, Indonesia menempati peringkat ke-14 sebagai negara dengan estimasi Orang dengan HIV (ODHIV) tertinggi di dunia, dan peringkat ke-9 untuk infeksi HIV baru. Ini menandakan bahwa upaya penanggulangan HIV masih membutuhkan perhatian dan langkah strategis yang lebih kuat.

    Salah satu kelompok paling rentan dalam penyebaran HIV adalah wanita hamil yang hidup dengan HIV (WLHIV). Tanpa penanganan yang tepat, risiko penularan HIV dari ibu ke anak (Mother-to-Child Transmission/MTCT) bisa mencapai 15–45 persen. Namun kabar baiknya, melalui intervensi medis yang komprehensif, risiko ini dapat ditekan hingga di bawah 5 persen.

    • Kesenjangan dalam Penanganan HIV pada Kehamilan

    Indonesia telah melakukan sejumlah inisiatif untuk memperluas akses layanan kesehatan reproduksi dan HIV. Namun demikian, tantangan masih terus membayangi. Akses terhadap tes HIV bagi ibu hamil masih terbatas, distribusi terapi antiretroviral (ART) belum merata, dan edukasi masyarakat tentang pencegahan MTCT belum optimal. Di samping itu, stigma sosial terhadap pengidap HIV dan keterbatasan infrastruktur kesehatan, khususnya di daerah terpencil, menjadi hambatan besar.

    Maka dari itu, diperlukan pendekatan kebijakan yang lebih holistik dan kolaboratif guna memastikan perlindungan kesehatan bagi ibu dan anak serta mendorong pencapaian target nasional dan global dalam penanggulangan HIV.

    Rekomendasi Strategis Penanggulangan HIV dalam Kehamilan

  1. Akses Tes HIV untuk Ibu Hamil
    Tes HIV seharusnya menjadi bagian integral dari pelayanan antenatal care (ANC). Pemerintah perlu memperluas jangkauan tes HIV wajib di seluruh fasilitas kesehatan, termasuk penyediaan alat tes cepat di wilayah terpencil.
  2. Terapi Antiretroviral (ART) Gratis dan Konsisten
    ART harus tersedia secara universal dan gratis, tanpa diskriminasi berdasarkan status CD4 atau stadium infeksi. Konsistensi distribusi obat ARV di seluruh fasilitas kesehatan menjadi prioritas mutlak.
  3. Edukasi dan Kampanye Kesadaran
    Kampanye nasional yang melibatkan tokoh masyarakat, pemuka agama, dan media massa dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran, menghapus stigma, dan mendorong ibu hamil menjalani tes HIV secara sukarela.
  4. Pelatihan Tenaga Kesehatan
    Tenaga kesehatan perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan terkini dalam penanganan HIV pada kehamilan. Konseling, protokol pemberian ART, serta perawatan pasca-persalinan harus menjadi bagian dari pelatihan rutin.
  5. Dukungan Psikososial dan Ekonomi
    Selain medis, aspek psikologis dan ekonomi juga penting. Konseling rutin serta bantuan insentif bagi ibu hamil dengan HIV akan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan dan meringankan beban mereka.
  • Dampak Jangka Panjang yang Diharapkan

Dengan kebijakan yang terstruktur dan menyeluruh, Indonesia berpeluang menurunkan angka penularan HIV dari ibu ke anak secara drastis. Ibu hamil akan mendapatkan pengobatan yang memadai, kualitas hidup meningkat, dan anak-anak yang lahir bisa tumbuh sehat tanpa HIV.

Lebih dari itu, edukasi yang tepat akan membantu meruntuhkan tembok stigma yang selama ini menjadi hambatan utama dalam penanganan HIV. Sistem kesehatan juga akan semakin kuat karena ditopang oleh SDM yang terlatih dan infrastruktur yang memadai.

Menangani HIV pada kehamilan bukan sekadar tugas sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa. Pemerintah, tenaga kesehatan, akademisio, masyarakat sipil, dan keluarga harus berjalan seiring untuk memberikan masa depan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.

Dengan upaya kolaboratif dan berkelanjutan, Indonesia dapat tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga martabat dan harapan para ibu serta anak-anak yang mereka lahirkan. Sudah saatnya kita memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang lahir dengan HIV karena kelalaian sistem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....