Tersingkir di Piala Dunia, Presiden Fans Portugal Tidore Diceburkan ke Laut

  • 07 Jul 2026 19:44 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore – Perjalanan Timnas Portugal di Piala Dunia 2026 harus berakhir lebih cepat setelah takluk 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar. Kekalahan tersebut tak hanya mengakhiri ambisi Portugal melangkah lebih jauh di turnamen, tetapi juga memunculkan tradisi unik yang telah menjadi bagian dari kemeriahan Piala Dunia di Kota Tidore Kepulauan, yakni Batobo.

Presiden Fans Portugal Kota Tidore Kepulauan, Baharuddin Tosofu, menjadi sosok yang harus menerima konsekuensi dari hasil pertandingan tersebut. Pria yang akrab disapa Kudin itu diceburkan ke laut oleh para pendukung tim lain sebagai simbol kekalahan tim yang didukungnya.

Prosesi Batobo dilakukan setelah Kudin dijemput oleh gabungan pendukung Argentina, Belanda, dan Brasil. Dengan penuh canda dan gelak tawa, ia kemudian diarak menuju jembatan dikawasan pantai Tugulufa sebelum akhirnya diceburkan ke laut, disaksikan ratusan warga yang memadati lokasi.

Tradisi tersebut bukanlah hal baru dalam euforia Piala Dunia di Tidore. Sejak fase gugur dimulai, setiap kelompok suporter yang timnya tersingkir harus menjalani prosesi serupa. Sebelumnya, pendukung Belanda, Jerman, hingga Brasil juga telah lebih dahulu merasakan hukuman khas yang berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan.

Kekalahan Portugal juga sekaligus menandai berakhirnya perjalanan Cristiano Ronaldo bersama negaranya di Piala Dunia 2026. Meski harus mengakhiri kiprah di babak 16 besar, Portugal tetap mendapat apresiasi dari para pendukungnya atas perjuangan sepanjang turnamen.

Tidak hanya Presiden Fans Portugal, sejumlah pendukung Portugal lainnya juga ikut menjalani tradisi "Batobo", termasuk anggota TNI dari Kodim 1505/Tidore yang dikenal sebagai penggemar setia Selecao. Mereka dengan sukarela mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat antarkomunitas suporter sejak awal Piala Dunia berlangsung.

Tradisi "Batobo" sendiri telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Kota Tidore Kepulauan. Setiap kali ada tim unggulan yang tersingkir, ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan prosesi yang berlangsung dalam suasana meriah, penuh sportivitas, dan sarat nilai kebersamaan.

Bagi masyarakat Tidore, "Batobo" bukanlah bentuk perundungan terhadap suporter yang kalah, melainkan simbol menerima hasil pertandingan dengan lapang dada sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas pencinta sepak bola. Tidak ada rasa permusuhan yang ditunjukkan, sebaliknya para suporter justru saling bercanda dan merayakan euforia Piala Dunia bersama.

Tradisi unik tersebut menjadi bukti bahwa kecintaan masyarakat Tidore terhadap sepak bola tidak hanya terlihat dari dukungan kepada tim favorit masing-masing, tetapi juga dari cara mereka merawat sportivitas. Di tengah rivalitas yang tercipta selama Piala Dunia, "Batobo" justru menjadi ikon kebersamaan yang selalu dinanti dan menjadi hiburan tersendiri bagi warga setiap empat tahun sekali.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....