Usai Argentina Takluk di Final, Ribuan Pendukung 'Batobo' di Pelabuhan Rum Tidore

  • 20 Jul 2026 14:09 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore – Suasana berbeda terlihat di Dermaga Pelabuhan Rum, Kota Tidore Kepulauan, Senin 20 Juli 2026, beberapa saat setelah laga final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina melawan Spanyol berakhir. Ribuan pendukung Tim Nasional Argentina memadati kawasan pelabuhan, bukan untuk menyeberang menuju Kota Ternate, melainkan mengikuti tradisi khas yang telah lama dikenal masyarakat Tidore, yakni batobo.

Tradisi batobo (menceburkan diri ke laut) kembali menjadi pusat perhatian setelah Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol pada partai puncak Piala Dunia 2026. Kekalahan tersebut membuat para pendukung tim berjuluk La Albiceleste bersiap menjalani tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya sportivitas di kalangan pencinta sepak bola di Tidore.

Sejak siang hari, kawasan Pelabuhan Rum mulai dipenuhi lautan manusia. Sebagian besar mengenakan jersey biru-putih khas Argentina, membawa bendera, syal, hingga atribut tim kesayangan mereka. Kehadiran ribuan pendukung itu sempat membuat masyarakat yang berada di sekitar pelabuhan mengira akan terjadi lonjakan penumpang kapal menuju Ternate.

Namun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mereka datang dengan satu tujuan, yakni mengikuti prosesi batobo sebagai bentuk menepati janji sekaligus menerima hasil pertandingan dengan penuh sportivitas.

Prosesi dimulai ketika para pendukung Argentina diarahkan secara tertib oleh gabungan pendukung timnas Brazil, Spanyol, Jerman, dan Belanda. Setelah berkumpul di atas dermaga, satu per satu hingga berkelompok mereka kemudian diceburkan ke laut yang berada di sisi Pelabuhan Rum.

Sejumlah pendukung Argentina di Tidore Kepulauan dipaksa "batobo" di Pelabuhan Rum, usai tim kesayangannya kalah dengan skor 1-0 atas Spanyol di babak final, Senin, 20 Juli 2026. (Foto: Faisal Amin/RRI).

Sorak-sorai, gelak tawa, serta tepuk tangan dari warga yang menyaksikan prosesi tersebut membuat suasana pelabuhan berubah menjadi meriah. Dalam waktu singkat, kawasan pelabuhan yang biasanya dipenuhi aktivitas transportasi laut mendadak menyerupai objek wisata pantai, dengan ratusan orang berenang dan berkumpul di bibir laut setelah menjalani prosesi batobo.

Tradisi itu juga menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang melintas maupun pengguna jasa pelabuhan. Banyak di antara mereka mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam karena dinilai unik dan hanya dapat dijumpai pada momentum Piala Dunia

Membludaknya jumlah pendukung Argentina yang memenuhi area dermaga, khususnya di atas jalur tambatan motor kayu, sempat mengganggu aktivitas bongkar muat penumpang dan barang. Petugas pun mengatur arus pergerakan pendukung agar aktivitas pelabuhan tetap berjalan dengan aman.

Tidak berselang lama, situasi kembali normal setelah seluruh rangkaian prosesi batobo selesai dilaksanakan. Para peserta kemudian meninggalkan kawasan pelabuhan dengan tertib, sementara aktivitas pelayaran kembali berlangsung seperti biasa.

Di Kota Tidore Kepulauan, batobo telah berkembang menjadi tradisi unik yang selalu hadir dalam setiap turnamen sepak bola bergengsi, terutama Piala Dunia. Tradisi tersebut bukan dimaknai sebagai bentuk hukuman, melainkan simbol kebersamaan, keberanian menepati janji, serta wujud sportivitas dalam menerima kemenangan maupun kekalahan tim yang didukung.

Momentum batobo usai final Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan bagaimana antusiasme masyarakat Tidore terhadap sepak bola tidak hanya tercermin dari dukungan di tribun atau nonton bareng, tetapi juga melalui tradisi lokal yang menjadi bagian dari identitas para pencinta sepak bola di daerah tersebut.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....