BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Ancaman Gempa Megathrust di Maluku Utara
- 18 Sep 2026 06:27 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Masyarakat di wilayah pesisir Maluku Utara diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi kuat dan tsunami. Langkah tersebut dinilai penting mengingat Maluku Utara berada di kawasan tektonik aktif dengan sejumlah sumber gempa di sekitarnya.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, menyampaikan hal itu dalam Dialog Interaktif Ternate Pagi Pro 1 RRI Ternate. Ia menjelaskan, masyarakat perlu memahami karakteristik gempa megathrust sekaligus mengetahui tindakan yang harus dilakukan secara cepat ketika gempa kuat terjadi.
Megathrust merupakan zona pertemuan antarlempeng tektonik, ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Pada bidang pertemuan tersebut, pergerakan lempeng dapat terkunci sehingga tekanan terus terakumulasi dalam waktu yang panjang.
Ketika tekanan tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, dapat terjadi gempa bumi dengan kekuatan sangat besar. Jika gempa terjadi di bawah laut dan menyebabkan perubahan dasar laut, pergerakan tersebut berpotensi memicu tsunami yang mengancam kawasan pesisir.
Menurut Gede, salah satu hal penting yang harus dipahami masyarakat adalah gempa megathrust tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menunggu informasi mengenai waktu terjadinya gempa, tetapi harus membangun kesiapsiagaan sejak sebelum bencana.
“Kalau kita merasakan gempa kuat atau guncangan yang berlangsung sekitar 20 detik atau lebih, jangan menunggu sirene atau peringatan resmi. Segera lakukan evakuasi,” kata Gede, ditulis RRI, Jumat, 18 September 2026.

Ia menjelaskan, masyarakat yang berada di kawasan pesisir harus segera menjauh dari pantai setelah merasakan gempa kuat. Untuk memudahkan masyarakat mengingat langkah tersebut, Gede menekankan prinsip 20 detik, kurang dari 10 menit dan 20 meter sebagai panduan evakuasi mandiri.
“Rumusnya 20 detik, kurang dari 10 menit, kemudian menuju tempat dengan ketinggian 20 meter,” ujar Gede. Artinya, ketika merasakan guncangan kuat selama sekitar 20 detik atau lebih, masyarakat pesisir harus segera meninggalkan kawasan pantai dan menuju tempat yang lebih aman.
Gede mengatakan, waktu menjadi faktor penting karena tsunami yang dipicu gempa lokal dapat tiba di kawasan pesisir dalam waktu relatif singkat. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menunggu kepastian dari sirene maupun informasi lanjutan sebelum melakukan evakuasi mandiri.
Kondisi geografis Maluku Utara, khususnya sejumlah wilayah pesisir yang berdekatan dengan perbukitan, dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur evakuasi. Warga perlu mengenali akses menuju tempat tinggi dari rumah, tempat kerja, sekolah maupun lokasi aktivitas sehari-hari.
Masyarakat juga diminta mengikuti rambu dan jalur evakuasi yang telah disiapkan pemerintah daerah. Jika lokasi tempat tinggi sulit dijangkau, bangunan bertingkat yang kokoh dan telah ditetapkan sebagai tempat evakuasi dapat menjadi alternatif, dengan tetap mengikuti arahan petugas di lapangan.
Dalam kondisi darurat, evakuasi dengan berjalan kaki juga lebih dianjurkan apabila akses jalan berpotensi mengalami kemacetan. Penggunaan kendaraan justru dapat memperlambat proses evakuasi, terutama di kawasan pesisir dengan jaringan jalan yang terbatas.
Selain kesiapan menghadapi tsunami, masyarakat juga perlu mempersiapkan diri menghadapi dampak langsung gempa bumi. Setiap keluarga perlu mengetahui titik aman di dalam rumah, jalur keluar, lokasi berkumpul serta memastikan seluruh anggota keluarga memahami rencana evakuasi.
Perabot rumah yang berpotensi roboh seperti lemari dan rak juga perlu diperkuat. Barang-barang berat sebaiknya tidak ditempatkan di atas tempat tidur atau lokasi yang dapat membahayakan anggota keluarga ketika terjadi guncangan.
Keluarga juga dianjurkan menyiapkan tas siaga bencana yang mudah dibawa saat evakuasi. Isinya antara lain air minum, makanan tahan lama, senter, peluit, baterai cadangan, obat-obatan pribadi, perlengkapan P3K, pakaian, masker, dokumen penting yang dilindungi serta pengisi daya telepon seluler.
Gede menegaskan, kesiapsiagaan menjadi kunci karena tidak ada yang dapat memastikan kapan gempa besar akan terjadi. Masyarakat yang memahami ancaman dan telah memiliki rencana evakuasi akan lebih siap mengambil tindakan ketika guncangan terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....