Tambang Bawah Tanah NHM Bongkar Tantangan Nyata yang Tak Ada di Ruang Kelas
- 17 Sep 2026 11:00 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Sofifi - Pendidikan pertambangan dituntut tidak berhenti di ruang kelas. Perubahan teknologi, karakteristik geologi, hingga tantangan keselamatan dan keberlanjutan membuat perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan industri.
Gagasan itu mengemuka dalam Temu Nasional Tahunan XII Forum Komunikasi Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Seluruh Indonesia (Forkopindo) dan Workshop Mata Kuliah (WMK) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 4–9 September 2026.
Forum bertema Transformasi Pendidikan Pertambangan: Menjawab Tantangan Ketahanan Energi dan Pengembangan Industri Nasional tersebut mempertemukan 122 peserta dari 46 perguruan tinggi dengan pemerintah dan praktisi sejumlah perusahaan pertambangan.
Salah satu pengalaman industri yang dibawa ke ruang akademik datang dari PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Perusahaan tambang emas di Maluku Utara itu diwakili Principal Geotechnical Anas Abdul Latif sebagai narasumber Workshop Forkopindo, Senin, 7 September 2026.
Anas tidak hanya membahas konsep pertambangan, tetapi membawa pengalaman operasional NHM dalam mengelola tambang bawah tanah di Gosowong.
Ia memaparkan perkembangan kegiatan penambangan sejak discovery outcrop di Gosowong, Toguraci, dan Kencana, hingga karakteristik dua tambang bawah tanah yang kini dioperasikan NHM, yakni Tambang Bawah Tanah Kencana dan Toguraci.
Keduanya memiliki kondisi geologi dan tantangan teknis berbeda. Di Kencana, NHM menerapkan metode underhand cut and fill dengan mempertimbangkan endapan berkadar tinggi serta kondisi batuan samping yang mudah rapuh.
Sementara di Toguraci, metode stoping digunakan dengan salah satu tantangan utama berupa keberadaan akuifer hidrotermal yang memiliki temperatur sekitar 80 derajat Celsius.
“Di Kencana, metode underhand cut and fill diterapkan dengan mempertimbangkan karakteristik endapan berkadar tinggi (high grade) serta kondisi batuan samping yang mudah rapuh. Sementara itu, Tambang Bawah Tanah Toguraci menggunakan metode stoping dengan tantangan berupa keberadaan akuifer hidrotermal yang memiliki temperatur sekitar 80 derajat Celcius,” kata Anas.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konsep yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah harus berhadapan dengan kondisi lapangan yang jauh lebih kompleks. Karena itu, menurut Anas, pengalaman praktis industri dapat menjadi bahan penting dalam memperkaya pembelajaran teknik pertambangan.
Ia juga menjelaskan siklus penambangan bawah tanah di Gosowong, termasuk strategi pengangkutan bijih emas berdasarkan tingkat prioritas. Material dengan prioritas utama diangkut langsung menuju Rompad, sedangkan material dengan prioritas lebih rendah dikelola melalui proses rehandle.
Bagi dunia pendidikan, paparan semacam ini membuka ruang untuk mempertemukan kebutuhan kompetensi di lapangan dengan materi yang diajarkan di perguruan tinggi.
Dewan Pembina Forkopindo Prof. Dr. Ir. Rudy Sayoga Gautama, M.Sc., IPU, mengatakan perkembangan industri dan teknologi pertambangan perlu terus diikuti bersama agar pendidikan mampu menjawab kebutuhan masa depan.
“Forkopindo memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia profesional bagi masa depan pertambangan Indonesia. Mari terus memperkuat kolaborasi dan mengikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan industri pertambangan,” ujarnya.
General Manager Geology Resources & Support NHM Denny Lesmana mengatakan industri pertambangan ke depan akan menghadapi tantangan yang terus berkembang. Karena itu, inovasi dan gagasan baru dari dunia akademik dibutuhkan untuk mendukung perkembangan industri.
“Berbagi praktik industri diharapkan tidak hanya memberikan gambaran mengenai penerapan di lapangan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar di kalangan mahasiswa sebagai calon generasi penerus industri pertambangan,” kata Denny.
Pertemuan Forkopindo pun tidak sekadar menjadi forum pertukaran pengetahuan. Kehadiran praktisi industri membuka peluang agar pembelajaran pertambangan lebih dekat dengan persoalan nyata di lapangan.
Di tengah tuntutan ketahanan energi dan pengembangan industri nasional, perguruan tinggi dan perusahaan pertambangan memiliki ruang kolaborasi yang semakin luas, terutama melalui riset, inovasi, dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
Pengalaman NHM dari tambang bawah tanah Gosowong menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan industri dapat dibawa kembali ke ruang akademik—sebagai bahan pembelajaran bagi calon tenaga profesional pertambangan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....