Gubernur Sherly Ajak Harita Nickel Ikut Bangun Jalan Lingkar Obi
- 28 Agt 2026 07:39 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Sofifi - Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda meminta PT Harita Nickel ikut mempercepat pembangunan jalan lingkar Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menargetkan pembangunan ruas jalan tersebut bisa dituntaskan dalam waktu sekitar enam hingga tujuh tahun melalui pembagian peran antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perusahaan, dan pemerintah pusat.
Ajakan itu disampaikan Sherly dalam Forum Temu Sinergi Harita Nickel dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara di Kantor Gubernur Maluku Utara, Sofifi, Kamis, 27 Agustus 2026.
Forum tersebut dihadiri Roy Arman Arfandy - Direktur Utama Harita Nickel, Donal J Hermanus, Komisaris Utama Harita Nickel, Christina Lim, Perwakilan Manajemen dan jajarannya. Sementara dari Pemprov, hadir Wakil Gubernur Sarbin Sehe, Sekretaris Daerah Samsuddin A Kadir, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah.
Sherly mengatakan Pemprov Maluku Utara telah mengalokasikan anggaran pembangunan jalan lapen di Pulau Obi. Tahun ini, pemerintah provinsi membangun sekitar 10 kilometer jalan dan berkomitmen meningkatkan pembangunan menjadi 15 kilometer per tahun mulai tahun depan.
Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mengambil porsi pembangunan sekitar 10 kilometer setiap tahun. Adapun Harita Nickel diharapkan turut mengambil bagian dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan di kawasan tersebut.
“Kalau kita… Harita 5, kabupaten 10, kita provinsi 15, itu sudah 40 kilo. Total hanya 330 kilo, artinya jika setiap tahun 40 kilo, mudah-mudahan dari APBN kita dapat 10 kilo, maka dalam 6-7 tahun selesai,” kata Sherly di hadapan jajaran Harita Nickel.
26 Tahun Jalan Lingkar Obi Tak Kunjung Tuntas
Sherly menyoroti kondisi jalan di Pulau Obi yang hingga kini belum juga terkoneksi secara utuh. Menurut dia, selama 26 tahun sejak Provinsi Maluku Utara berdiri, pembangunan jalan lingkar Pulau Obi belum selesai.
Kondisi tersebut, kata Sherly, bukan sekadar persoalan konektivitas, tetapi menyangkut keselamatan dan akses dasar masyarakat.
Ia mencontohkan warga yang hendak melahirkan terpaksa menyewa speedboat dengan biaya mencapai Rp15 juta untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dalam kondisi cuaca buruk, perjalanan melalui laut juga tidak selalu memungkinkan.
“Jika ada yang melahirkan mereka harus sewa speed katanya 15 juta, kalau tidak, mati. Dan mereka tidak bisa di-runtut lagi karena ombaknya terlalu tinggi,” ujar Sherly.
Karena itu, pembangunan jalan lingkar Obi dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah ingin pembangunan tidak lagi berjalan secara parsial, melainkan dikerjakan secara bersama-sama dengan target yang terukur.
Dengan skema pembangunan 15 kilometer per tahun oleh pemerintah provinsi, 10 kilometer oleh pemerintah kabupaten, lima kilometer dari Harita Nickel, serta tambahan dukungan sekitar 10 kilometer dari APBN, pemerintah memperkirakan 40 kilometer jalan dapat dibangun setiap tahun.
Jika target tersebut konsisten tercapai, ruas jalan sepanjang sekitar 330 kilometer itu diproyeksikan dapat terselesaikan dalam enam hingga tujuh tahun.
Selain meminta dukungan untuk percepatan jalan, Sherly mengapresiasi hubungan kerja sama antara Pemprov Maluku Utara dan Harita Nickel. Menurut dia, kolaborasi pemerintah dan perusahaan dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan pembangunan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
“Kita bermitra strategis, penandatanganan prasasti dan menerima bantuan dari CSR,” kata Sherly.
Dalam forum tersebut, pemerintah juga menerima sejumlah dukungan dari Harita Nickel. Di antaranya bantuan truk sampah dan pembangunan jembatan melalui kerja sama dengan TNI.
“Hari ini ada penerimaan truk sampah, pembangunan jembatan kerja sama dengan TNI. Terima kasih Pak Danrem atas kerja sama baiknya,” ujar Sherly.
Bagi pemerintah provinsi, sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada bantuan sosial perusahaan. Kolaborasi diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap mobilitas dan akses pelayanan dasar masyarakat Pulau Obi.
Persoalan jalan lingkar Obi kini menjadi salah satu pekerjaan rumah besar pembangunan infrastruktur di Halmahera Selatan. Sherly berharap pembagian target lintas pihak dapat mengubah pembangunan jalan dari proyek yang berjalan bertahap menjadi program bersama dengan tenggat penyelesaian yang jelas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....