UGM Jadikan Malut Lokasi Pertama Transplantasi Kornea di Wilayah Timur
- 04 Agt 2026 18:25 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama PT Erlangga Edi Laboratories (Erela) menggelar bakti sosial transplantasi kornea mata di RSUD Chasan Boesoirie, Ternate, Maluku Utara, dimulai pada Selasa 4 Agustus 2026. Program yang menjadi bagian dari Bakti Sosial Komunitas Kesehatan Rakyat (KOKAR) UGM pada 3–7 Agustus 2026 itu mencatat sejarah sebagai layanan transplantasi kornea pertama yang dilaksanakan di kawasan Indonesia Timur.
Kegiatan tersebut melibatkan tim dokter spesialis mata dari UGM dan diperkuat oleh pakar kornea asal Amerika Serikat, Prof. Lloyd Williams, MD., Ph.D., yang mendampingi langsung pelaksanaan tindakan medis.
Sebanyak 30 calon pasien mengikuti proses pendaftaran dan pemeriksaan kesehatan. Setelah melalui seleksi medis, hanya 12 pasien yang dinyatakan memenuhi syarat untuk menjalani operasi transplantasi kornea.
Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, ia menyapa para pasien sekaligus meninjau langsung proses transplantasi kornea yang berlangsung di RSUD Chasan Boesoirie.
Guru Besar Ilmu Kesehatan UGM, Prof. dr. M. Bayu Sasongko, mengatakan keterlibatan UGM dalam program tersebut merupakan wujud pelaksanaan nilai dasar kampus, yakni memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Beberapa kali saya ditanya kenapa UGM sangat antusias dengan kegiatan seperti ini. Kalau boleh saya kembalikan ke slogan UGM, ‘Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi’. Kami berupaya mengakar kuat pada nilai-nilai Indonesia, kemudian menghasilkan sesuatu yang berdampak luas bagi masyarakat,” kata Bayu.

Menurutnya, Maluku Utara dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan kajian sistem kesehatan yang dilakukan bersama Kementerian Kesehatan, provinsi kepulauan tersebut masih menghadapi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan mata.
Ia menjelaskan, persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan sumber daya, melainkan kondisi geografis yang terdiri atas banyak pulau sehingga menyulitkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
“Maluku Utara termasuk daerah yang pelayanan kesehatannya masih berada di peringkat bawah dalam kajian kami. Tantangannya berbeda karena wilayah kepulauan membuat akses pelayanan kesehatan menjadi jauh lebih sulit dibanding daerah lain,” ujarnya.
Bayu juga menyoroti tingginya tantangan penanganan kebutaan di Maluku Utara. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi kebutaan di provinsi tersebut tercatat sebesar 0,5 persen atau sekitar 7.500 orang jika dihitung dari jumlah penduduk.
Namun, ia meyakini angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya karena pelaksanaan survei menghadapi berbagai kendala di lapangan.
“Kami sangat yakin angkanya lebih tinggi dari itu. Survei menghadapi tantangan sehingga tingkat respons masyarakat belum representatif,” katanya.
Ia menambahkan, secara teori satu penyandang kebutaan membutuhkan sedikitnya dua orang lain untuk mendampingi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut berdampak terhadap produktivitas keluarga sehingga penanganan gangguan penglihatan menjadi bagian penting dalam pembangunan kesehatan.
Karena itu, UGM mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memperluas akses layanan kesehatan mata, khususnya di wilayah kepulauan.
Kegiatan bakti sosial ini turut dihadiri Anggota DPD RI Hasby Yusuf, Presiden Direktur PT Erela Dra. Lily Radite Handoyo, jajaran manajemen RSUD Chasan Boesoirie, Kepala Dinas Kesehatan Maluku Utara Julys Giscard Kroons, Ketua KAGAMA Maluku Utara, serta para pasien dan keluarga mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....