Kelola Sampah Terpadu, IWIP Perkuat Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
- 02 Jul 2026 14:53 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Lelilef – Pengelolaan sampah domestik menjadi salah satu tantangan besar di kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) seiring meningkatnya aktivitas operasional dan jumlah tenaga kerja. Untuk mengatasi persoalan tersebut, perusahaan menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu guna memastikan limbah domestik tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Hingga 2025, IWIP memiliki lebih dari 80 ribu karyawan aktif. Dengan jumlah tenaga kerja sebesar itu, kawasan industri menghasilkan puluhan ton sampah domestik setiap hari yang seluruhnya dikirim ke fasilitas pengelolaan limbah domestik untuk diproses secara sistematis.
Komitmen IWIP tidak hanya difokuskan di dalam kawasan industri, tetapi juga menjangkau masyarakat sekitar. Perusahaan turut mendukung pengelolaan sampah di tiga desa yang berada di sekitar wilayah operasional, yakni Desa Lelilef Sawai, Desa Lelilef Waibulan, dan Desa Gemaf.
Bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui pengangkutan sampah secara rutin dari dua Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berada di wilayah Lelilef dan Gemaf. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di kawasan sekitar.
General Manager HSE PT IWIP, Iwan Kurniawan, mengatakan perusahaan telah menerapkan sistem pemilahan sampah sejak September 2020. Upaya tersebut kemudian diperkuat dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah domestik terpadu pada 2023 yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi.

Fasilitas tersebut dilengkapi berbagai teknologi pengolahan modern, mulai dari insinerator, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Refuse Derived Fuel (TPST RDF), hingga komposter untuk mengolah sampah organik. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menerapkan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Setiap sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan terlebih dahulu melalui proses pemilahan. Material yang masih memiliki nilai guna dipisahkan agar dapat dimanfaatkan kembali sesuai karakteristiknya.
Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan material yang masih memiliki nilai ekonomi diproses untuk didaur ulang. Sementara itu, sampah yang memiliki nilai kalor dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif melalui fasilitas RDF, sedangkan sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali diolah menggunakan teknologi insinerasi.
Insinerasi menjadi salah satu metode yang digunakan IWIP untuk mengolah sampah padat yang mudah terbakar namun tidak dapat didaur ulang. Proses diawali dengan penerimaan sampah dari kendaraan pengangkut yang kemudian dituang ke area penerimaan dan pemilahan.
Selanjutnya, sampah dipisahkan berdasarkan ukuran dan dilakukan pemilahan manual oleh operator. Material seperti PVC, aluminium foil, logam, maupun bahan lain yang masih berpotensi didaur ulang tidak diperbolehkan masuk ke dalam insinerator dan dipisahkan terlebih dahulu.
Setelah melalui proses pemilahan, sampah residu diangkut menggunakan sistem konveyor menuju area penyimpanan sementara sebelum dimasukkan ke ruang bakar insinerator. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan proses pembakaran berlangsung lebih efisien dan sesuai standar pengelolaan lingkungan.
Selain insinerasi, IWIP juga mengembangkan pengolahan sampah melalui fasilitas TPST RDF yang dinilai lebih ramah lingkungan. Teknologi ini mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan pada sistem pembakaran boiler maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Proses pengolahan RDF dimulai dengan pemisahan material yang tidak dapat dibakar seperti kaca dan logam. Sampah kemudian melalui dua tahap pencacahan hingga memiliki ukuran seragam sebelum memasuki proses pengeringan untuk menurunkan kadar air.
Setelah kadar air berkurang, material disimpan pada tempat penyimpanan RDF sebelum dimanfaatkan. Produk akhirnya berupa serpihan atau pelet kering dengan nilai kalor yang mendekati batu bara sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti (co-firing) bagi berbagai sektor industri.
Melalui sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi mulai dari pemilahan, daur ulang, pengomposan, RDF hingga insinerasi, IWIP terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan pengelolaan limbah yang efektif dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga mendukung penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) sekaligus menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Perusahaan berharap pengelolaan sampah yang dilakukan secara terpadu tidak hanya menjaga kebersihan kawasan industri, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, IWIP berupaya mewujudkan kawasan industri yang lebih bersih, sehat, serta berkelanjutan untuk jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....