16.703 Anak di Maluku Utara Alami Gigi Berlubang Alarm Lemah Perilaku Hidup Sehat

  • 03 Agt 2026 06:37 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID,Ternate - Sebanyak 16.703 anak di Maluku Utara ditemukan mengalami karies atau gigi berlubang berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dirilis Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada awal 2026. Besarnya temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut anak perlu menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.

Direktur Beyond Health Indonesia sekaligus Wakil Kepala Research and Policy Center ILUNI FKM UI, Nadhir Wardhana, mengatakan tingginya kasus karies harus menjadi momentum untuk memperkuat pembentukan perilaku hidup sehat sejak usia sekolah. Minggu 02 - Agustus - 2026

“Ketika lebih dari 16 ribu anak mengalami gigi berlubang, ini bukan lagi persoalan kesehatan perorangan. Angka tersebut menunjukkan perlunya gerakan bersama untuk membangun kebiasaan sehat di rumah, sekolah, dan lingkungan tempat anak tumbuh,” ujar Nadhir.

Menurut alumnus FKM UI Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku tersebut, gigi berlubang tidak dapat dianggap sebagai persoalan ringan. Karies dapat menyebabkan nyeri, mengganggu nafsu makan, menurunkan kualitas tidur, serta memengaruhi konsentrasi anak saat mengikuti pelajaran.

Tingginya kasus karies dapat berkaitan dengan kebiasaan menyikat gigi yang belum dilakukan secara benar dan konsisten. Selain itu, kondisi tersebut juga menjadi pengingat mengenai tingginya konsumsi makanan dan minuman manis di kalangan anak-anak.

Namun, Nadhir menegaskan bahwa perubahan perilaku tidak dapat hanya dibebankan kepada anak. “Anak memang perlu diajarkan menyikat gigi dan membatasi makanan manis. Namun, keluarga harus memberikan contoh, sekolah perlu membangun kebiasaan, dan lingkungan harus menyediakan pilihan yang lebih sehat. Perilaku sehat akan lebih mudah terbentuk ketika pilihan sehat juga mudah dilakukan,” jelasnya.

Data CKG yang dirilis Pemprov Maluku Utara turut menemukan adanya 18.337 siswa kurang melakukan aktivitas fisik, 2.840 siswa mengalami prehipertensi, 545 siswa terdeteksi prediabetes, 5.951 siswa berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi, 3.609 siswa terindikasi gizi kurang, serta 2.042 siswa memiliki kebiasaan merokok.

Menurut Nadhir, berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan yang memengaruhi kesehatan mulai terbentuk sejak usia sekolah. Karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat program promotif dan preventif yang dilakukan secara rutin, terukur, dan melibatkan keluarga.

Program tersebut dapat diwujudkan melalui pembiasaan menyikat gigi, edukasi orang tua, pengendalian makanan dan minuman tinggi gula di lingkungan sekolah, peningkatan aktivitas fisik harian, penguatan kawasan tanpa rokok, serta pendampingan bagi siswa yang memiliki faktor risiko kesehatan.

“CKG telah memberikan gambaran masalah kesehatan anak secara lebih jelas. Langkah berikutnya adalah menerjemahkan data tersebut menjadi kebiasaan sehat yang dilakukan setiap hari. Perubahan perilaku tidak cukup melalui satu kali sosialisasi, tetapi membutuhkan pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung,” tegas Nadhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....