Sampah Rumah Tangga Berkontribusi pada Perubahan Iklim
- 14 Sep 2026 06:44 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Sampah rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Hal itu disampaikan Muhammad Asagaf dari Trash Hero Chapter Ternate dalam dialog interaktif Green Radio Pro 1 RRI Ternate. Sabtu, 12 -September 2026.
Menurutnya, sampah organik yang tertimbun di tempat pembuangan akhir dengan kondisi minim oksigen dapat menghasilkan gas metana. Gas metana menjadi salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.
Ia menjelaskan, masyarakat perlu mulai memilah sampah dari rumah untuk mengurangi sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, bokashi, maupun pupuk organik sehingga tidak seluruhnya dibuang ke tempat pemrosesan akhir.Asagaf menyebut, sampah organik mendominasi sekitar 50 hingga 60 persen volume sampah yang ada.
Karena itu, pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi salah satu langkah sederhana dan murah untuk mengurangi dampak lingkungan. Selain pengelolaan sampah rumah tangga, Trash Hero Chapter Ternate juga mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.Komunitas tersebut mengedukasi masyarakat dan pelajar untuk membawa wadah minum sendiri serta mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Sejak hadir di Ternate pada Oktober 2024, Trash Hero Chapter Ternate menjalankan berbagai kegiatan lingkungan.Kegiatan tersebut meliputi aksi bersih di sejumlah kawasan publik, edukasi lingkungan, serta kolaborasi dengan komunitas lainnya.
Asagaf mengatakan, aksi bersih rutin dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk Benteng Oranje, kawasan Jatiland, Pelabuhan Perikanan Bastiong, dan Taman Pandara Kananga.Ia menyebut, selama sekitar dua tahun, komunitas tersebut telah melakukan aksi bersih sekitar 64 kali.
Namun, kondisi sampah di sejumlah kawasan publik dan pesisir dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.Sampah plastik seperti botol, sedotan, kantong kresek, kemasan saset, hingga popok masih banyak ditemukan di kawasan pesisir.
Asagaf menilai, persoalan sampah membutuhkan kesadaran bersama masyarakat, pemerintah, komunitas, dan penyelenggara kegiatan.Ia mendorong setiap kegiatan publik menyisipkan edukasi pengelolaan sampah agar masyarakat terbiasa bertanggung jawab terhadap sampahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....