Bakar Sampah Bukan Solusi, Trash Hero Dorong Warga Pilah dan Kelola Sampah
- 11 Agt 2026 10:30 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID,Ternate - Kebiasaan membakar sampah yang masih dilakukan sebagian masyarakat dinilai bukan solusi untuk mengatasi persoalan sampah. Selain berpotensi mengganggu kesehatan, pembakaran sampah juga dapat mencemari udara dan meningkatkan risiko kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan angin yang cukup kencang.
Hal tersebut disampaikan Dr. Muhammad Assagaf, M.Si., dari Trash hero Ternate dalam program Green Radio RRI Ternate, Sabtu (8/8/2026). Dialog episode ke-32 tersebut mengangkat tema mengenai apakah membakar sampah merupakan solusi dalam menangani sampah rumah tangga.
Assagaf mengatakan, membakar sampah memang dianggap sebagai cara paling mudah dan murah karena masyarakat hanya membutuhkan api untuk menghilangkan sampah. Namun, sampah yang dibakar sebenarnya tidak benar-benar hilang, melainkan berubah menjadi asap dan mencemari udara.
“Artinya mengatasi masalah yang menimbulkan masalah,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Ia menjelaskan, risiko pembakaran semakin tinggi ketika masyarakat membakar sampah berbahan plastik, karet maupun material tertentu lainnya. Pembakaran plastik dapat menghasilkan zat berbahaya seperti dioksin dan furan. Paparan asap dalam jangka panjang juga berpotensi mengganggu kesehatan.
Selain pencemaran udara, pembakaran sampah di ruang terbuka juga dapat memicu kebakaran. Kondisi angin yang kencang dapat membuat bara atau bunga api terbawa ke lokasi lain dan memicu kebakaran yang lebih luas.
Menurut Asagaf, dampak asap pembakaran juga perlu menjadi perhatian bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki alergi atau sensitif terhadap polusi udara.
Karena itu, masyarakat didorong untuk mulai meninggalkan kebiasaan membakar sampah dan beralih pada pengelolaan yang lebih aman. Langkah paling sederhana yang dapat dilakukan dari rumah adalah memilah sampah organik dan anorganik.
Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah menjadi kompos atau dibenamkan ke tanah. Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng dan kaca dapat dikumpulkan untuk diserahkan kepada petugas atau pengelola sampah yang masih dapat memanfaatkannya.
Asagaf juga menyebut keberadaan bank sampah dan TPS 3R di sejumlah wilayah Kota Ternate sebagai alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Salah satunya Bank Sampah Andalan yang menerima sejumlah jenis plastik bernilai ekonomi serta material seperti kardus.
Ia menilai upaya pengurangan sampah dari sumbernya perlu lebih dimasifkan. Menurutnya, pemerintah tidak hanya perlu mengandalkan penambahan armada dan petugas pengangkut sampah, tetapi juga mendorong masyarakat melakukan pemilahan sejak dari rumah.
Selain pengelolaan sampah, masyarakat juga diajak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Salah satunya dengan membawa tas belanja yang dapat digunakan berulang kali serta membiasakan anak-anak membawa tumbler dan kotak makan ke sekolah.
Transiro juga terus mendorong edukasi lingkungan melalui kegiatan bersama masyarakat dan sekolah. Dalam dialog tersebut disebutkan, edukasi kepada siswa di SD Alkhairat 05 Falajawa 2 antara lain mendorong penggunaan tumbler dan pengurangan penggunaan wadah plastik sekali pakai.
Assagaf menegaskan, penyelesaian persoalan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak. Masyarakat tidak harus menjadi bagian dari komunitas tertentu untuk berkontribusi, tetapi dapat memulainya dari kebiasaan sehari-hari.
“Bakar sampah itu bukan solusi, tapi kita memindahkan masalah dari darat ke udara,” katanya. Ia mengajak masyarakat memilah dan mengolah sampah agar dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.
Dengan perubahan kebiasaan mulai dari rumah, diharapkan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan dapat ditekan sekaligus mengurangi pencemaran udara dan risiko kebakaran di lingkungan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....