Pendidikan 5R Dinilai Mendesak Masuk Kurikulum, Ini Alasannya

  • 27 Apr 2026 10:16 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – Program dialog interaktif Green Radio RRI Pro 1 Ternate kembali menghadirkan isu lingkungan yang relevan dan aplikatif. Pada episode ke-24, topik yang diangkat adalah urgensi pendidikan 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, Recycle) untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, sebagai bekal generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Dipandu oleh Ikbal Kutaman, dialog ini menghadirkan Ketua Relawan Trust Hero Chapter Ternate, Muhammad Assagaf, yang aktif mengedukasi masyarakat dan pelajar tentang pengelolaan sampah berbasis 5R. Dalam dialog tersebut, Assagaf menekankan bahwa anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar akan menjadi penentu masa depan bangsa.

Oleh karena itu, mereka perlu dibekali tidak hanya pengetahuan, tetapi juga karakter peduli lingkungan. Menurutnya, konsep 3R yang selama ini dikenal masyarakat—reduce, reuse, recycle—perlu diperluas menjadi 5R agar lebih komprehensif. Dua tambahan penting yaitu refuse (menolak) dan repurpose (mengubah fungsi) dinilai mampu memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya.

“Refuse itu paling kuat karena tidak membutuhkan biaya, hanya butuh kesadaran. Sementara repurpose mengajarkan kreativitas dengan mengubah barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Assagaf. Dalam praktiknya, konsep 5R dapat diterapkan secara sederhana oleh anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah. Misalnya:

  • Menolak penggunaan sedotan dan kantong plastik
  • Membawa tas belanja sendiri
  • Menggunakan kembali botol minum dan kotak makan
  • Mengubah botol bekas menjadi pot tanaman
  • Membatasi konsumsi barang yang tidak dibutuhkan

Assagaf juga menyoroti pentingnya peran guru dan orang tua sebagai teladan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Meski dinilai penting, implementasi 5R masih menghadapi berbagai tantangan.

Berdasarkan pengalamannya turun langsung ke sekolah-sekolah di Ternate, pemahaman siswa terhadap konsep ini masih terbatas pada 3R. Selain itu, faktor lingkungan sosial juga mempengaruhi. Anak-anak sering merasa “aneh” ketika mencoba menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat yang belum terbiasa.

Dialog juga diwarnai interaksi pendengar, salah satunya yang menyoroti persoalan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi saja tidak cukup tanpa didukung sistem dan tata kelola yang baik dari pemerintah. Assagaf menegaskan perlunya sinergi antara masyarakat dan pemerintah, termasuk dalam pengawasan fasilitas kebersihan serta kebijakan yang lebih tegas di sektor pendidikan.

Di akhir dialog, Assagaf berharap konsep 5R dapat segera diintegrasikan dalam kurikulum sekolah, baik sebagai muatan lokal maupun terintegrasi dalam mata pelajaran.“Pendidikan lingkungan sejak dini adalah investasi jangka panjang dampaknya tidak instan, tapi akan sangat besar bagi masa depan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....