Mari Dorong Lahirnya Generasi Aceh Tengah yang Terampil dan Tangguh
- 04 Okt 2026 09:58 WIB
- Takengon
TAKENGON — Generasi muda Aceh Tengah harus dipersiapkan menjadi generasi yang tangguh, rajin, dan memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal menghadapi perubahan ekonomi serta berkurangnya sumber daya alam pada masa mendatang.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Ridwan Nurdin, M.CL dalam ceramah Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon, Minggu (4/10/2026), yang disiarkan secara langsung melalui PRO 1 RRI Takengon.
Prof. Ridwan mengawali pembahasannya dengan menyinggung kemajuan negara-negara kecil seperti Singapura dan Brunei Darussalam.
Menurutnya, ukuran sebuah negara tidak selalu menentukan tingkat kemajuannya. Negara kecil pun dapat berkembang apabila memiliki sistem yang baik dan mampu menjaga kesepakatan yang telah dibangun.
“Singapura ini negara kecil, tetapi maju. Karena apa maju? Sistemnya dia jaga,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan Brunei Darussalam yang memiliki sumber daya alam dan mengelolanya melalui sistem yang dimiliki negara tersebut.
Dari contoh itu, Prof. Ridwan menekankan bahwa kemajuan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas manusia, sistem, dan pendidikan.
Dalam ceramahnya, Prof. Ridwan menyoroti pentingnya budaya rajin dalam kehidupan. Menurutnya, nilai-nilai kerja keras juga telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para pendahulu.
Ia mengutip pandangan yang sering disampaikan almarhum Presiden BJ Habibie mengenai kemampuan seseorang untuk terus belajar.
“Kalau kurang pandai bisa belajar. Tapi kalau malas, bagaimana caranya?” ujarnya.
Karena itu, pendidikan menurutnya harus mampu membentuk manusia yang mau belajar dan bekerja keras, bukan hanya mengejar nilai akademik.
Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak tumbuh menjadi pribadi yang mudah mengeluh dan mudah menyerah.
“Jangan belum apa-apa sudah lemah. Sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit mengeluh,” katanya.
Menurut Prof. Ridwan, generasi masa depan harus memiliki mental petarung dalam pengertian positif, yakni berani menghadapi tantangan, mandiri, mau bekerja keras, dan mampu mencari solusi.
Salah satu hal yang dinilai penting adalah penguasaan keterampilan.
Prof. Ridwan mengatakan, ketika sumber daya alam semakin terbatas, generasi muda harus memiliki kemampuan yang dapat dibawa ke mana pun mereka berada.
Ia memberikan contoh profesi yang mengandalkan keterampilan. Seorang tukang, imam, maupun orang yang memiliki kemampuan mengajar mengaji dapat membawa keahliannya ke berbagai tempat.
Sebaliknya, sumber daya berupa lahan pertanian memiliki keterbatasan karena tidak dapat dipindahkan ketika seseorang harus mencari peluang di daerah lain.
“Kalau keterampilan itu melekat,” ujarnya.
Menurutnya, keterampilan menjadi modal yang melekat pada seseorang dan dapat digunakan untuk membangun kehidupan di masa depan.
Ia kemudian menyampaikan ungkapan yang dinisbahkan kepada Imam Ali bahwa keterampilan yang dimiliki seseorang dapat menjadi sesuatu yang menjaganya, sementara harta justru menuntut pemiliknya untuk menjaganya.
Prof. Ridwan mendorong keluarga dan lembaga pendidikan untuk mulai memikirkan keterampilan apa yang perlu dikuasai anak-anak sejak dini.
Menurutnya, anak-anak tidak cukup hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga harus diarahkan untuk menguasai sesuatu yang benar-benar dapat digunakan dalam kehidupan.
“Bagaimana anak-anak kita ... menguasai sesuatu yang bisa mereka bawa ke masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Ia menilai, pendidikan yang mampu melahirkan generasi terampil, rajin, dan tangguh akan menjadi salah satu modal penting bagi Aceh Tengah menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi sebagai upaya membangun manusia yang memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....