Syukur Kemerdekaan Tak Cukup dengan Ucapan, Ayo Bersama Merawat Bangsa

  • 21 Agt 2026 10:59 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon — Mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, mengayomi sesama, serta memanfaatkan kemerdekaan untuk menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan. Pesan tersebut disampaikan Tgk. Afrizal, M.Pd., dalam ceramah Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon yang turut disiarkan PRO 1 RRI TakengonTakengon, Kamis, 20 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan”, Tgk. Afrizal mengatakan kemerdekaan Indonesia merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang diraih melalui pengorbanan harta, darah, keringat, dan nyawa para pahlawan serta pejuang bangsa.

Menurutnya, kemerdekaan sebagaimana nikmat lainnya harus disyukuri dengan tiga cara, yakni melalui hati, lisan, dan perbuatan. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari kebesaran nikmat Allah, syukur melalui lisan diwujudkan dengan memperbanyak ucapan Alhamdulillah, sedangkan syukur melalui perbuatan dilakukan dengan menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah SWT.

“Orang yang pandai bersyukur adalah orang yang mampu menjaga bangsa ini dari penjajahan asing dan dari penjajahan bangsanya sendiri,” ujar Tgk. Afrizal.

Ia mengingatkan, perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan harus dilanjutkan dengan perjuangan menjaga bangsa. Masyarakat diminta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling iri, merasa paling berjasa, maupun terpecah-belah.

Tgk. Afrizal juga mengutip pesan dalam Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji Allah SWT untuk menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Sebaliknya, orang yang mengingkari nikmat Allah mendapatkan peringatan tentang azab yang pedih.

Karena itu, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI hendaknya menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk menjaga Indonesia dengan rasa cinta dan tanggung jawab. Ia mengajak masyarakat yang kuat untuk mengayomi, yang memiliki ilmu untuk mengajarkan, serta yang memiliki pengetahuan agama untuk memberikan arah kebaikan.

“Yang kuat, mari mengayomi, bukan menindas. Yang pandai mengajari, bukan membodoh-bodohi. Yang alim mengarahkan, bukan menyesatkan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....