Bekerja Terlalu Lama, Ancaman Nyata bagi Kesehatan
- 26 Jan 2026 10:51 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Fenomena pekerja overwork atau bekerja melebihi jam kerja wajar masih marak terjadi di Indonesia. Tak sedikit pekerja yang harus menghabiskan waktu kerja lebih dari 9–10 jam per hari, bahkan hingga akhir pekan. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan fisik dan mental pekerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar seperempat pekerja di Indonesia tercatat bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Angka tersebut melampaui batas waktu kerja normal yang diatur dalam peraturan ketenagakerjaan, yakni maksimal 40 jam per minggu. Jam kerja panjang ini banyak ditemukan di sektor informal, jasa, hingga industri dengan tuntutan target tinggi.
Pakar kesehatan menyebut, bekerja berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Salah satu risiko utama adalah meningkatnya penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Kurangnya waktu istirahat membuat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk pulih secara optimal.“Ketika stres berlangsung terus-menerus, hormon seperti kortisol dan adrenalin akan membebani sistem kardiovaskular,” jelas dr. Danielle Qing, dokter penyakit dalam dari Mount Sinai, seperti dilansir dari New York Post.
Tak hanya jantung yang terdampak, kerja berlebihan juga berpengaruh pada berbagai fungsi tubuh lainnya. Gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan kerap muncul karena tubuh kesulitan beristirahat setelah jam kerja panjang. Stres juga dapat mengganggu sistem pencernaan, memicu keluhan seperti perut tidak nyaman, kembung, hingga gangguan usus. Selain itu, daya tahan tubuh bisa menurun sehingga pekerja lebih rentan terserang penyakit. Masalah otot dan sendi, khususnya nyeri leher serta punggung, juga sering terjadi akibat posisi kerja yang statis dan kurang ergonomis.
Para ahli kesehatan mengibaratkan tubuh manusia memiliki kapasitas energi yang terbatas. Ketika tubuh terus dipaksa bekerja tanpa waktu pemulihan yang cukup, kemampuan fisik dan mental akan menurun, sementara risiko gangguan kesehatan justru meningkat. Kondisi ini dinilai mirip mesin yang dipacu terus-menerus tanpa perawatan, sehingga potensi kerusakan menjadi lebih besar.
Tak hanya berdampak secara fisik, overwork juga berpengaruh pada kesehatan mental. Pekerja dengan jam kerja berlebihan rentan mengalami stres kronis, kelelahan ekstrem, hingga burnout. Kondisi ini bisa ditandai dengan gangguan tidur, penurunan konsentrasi, mudah emosi, hingga menurunnya produktivitas kerja.
Selain itu, overwork juga meningkatkan risiko kecelakaan kerja, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan fokus tinggi dan aktivitas fisik. Kelelahan membuat refleks dan pengambilan keputusan menjadi lebih lambat, sehingga berbahaya bagi pekerja maupun lingkungan sekitarnya.
Para ahli menilai, persoalan overwork tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan. Banyak pekerja terpaksa menambah jam kerja atau mengambil pekerjaan sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup. Di sisi lain, budaya kerja yang menganggap jam kerja panjang sebagai bentuk loyalitas juga masih kuat di sejumlah sektor.
Pekerja perlu mulai meningkatkan kewaspadaan ketika muncul tanda-tanda seperti rasa lelah yang berkepanjangan, gangguan tidur, daya tahan tubuh menurun, hingga hilangnya semangat kerja. Borland menegaskan, apabila upaya membatasi jam kerja dan menjaga kesehatan diri sudah dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil, maka mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor, menjadi langkah yang sangat disarankan.
Sejumlah pakar menilai bahwa bekerja ekstra dalam situasi tertentu masih dapat ditoleransi. Namun, apabila jam kerja panjang berlangsung secara terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan fisik maupun mental pekerja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....