Pendidikan Karakter Dalam Kearifan Lokal Budaya Gayo
- 08 Agt 2023 11:30 WIB
- Takengon
KBRN,Takengon : Masyarakat Gayo adalah salah satu suku asli yang mendiami provinsi Aceh, khususnya yang berada di dataran tinggi Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah , Gayo Lues dan Aceh Tenggara, serta menempati posisi kedua sebagai suku asli terbesar di Aceh.
Masyarakat Gayo atau disebut juga urang Gayo mempunyai hubungan genea- logis dengan orang Melayu Tua, yang menyingkir dari pesisir pantai ke pedalaman disebabkan kedatangan Melayu Muda dari Indo-Cina dan Kamboja pada tahun 300 SM.
Seorang pemakalah pada Seminar Temu Budaya Nusantara pada Pekan Kebudayaan Aceh Ke-3 Tahun 1988 mengemukakan, “…sebelum orang Aceh yang berasal dari Campa tiba di Aceh, kawasan ini didiami suku-suku lain dari Austronesia, misalnya orang Gayo, di samping bangsa Mantir (Mente) yang tergolong dalam rumpun Mon Khmer”
Penelitian mengenai masyarakat Gayo pernah dilakukan oleh Junus Melalatoa. yang dalam penelitian dan pendokumentasian kebudayaan Gayo kemudian dipublikasikan dalam sejumlah buku, di antaranya: Kamus Bahasa Gayo-Indonesia , Kesenian Didong dan Perubahan Masyarakat di Gayo , Sastra Lisan Masyarakat Gayo , Kebudayaan Gayo , dan disertasi Pseudo-Moiety Gayo: Satu Analisa tentang Hubungan Sosial Menurut Kebudayaan Gayo .
Karya-karya Melalatoa memberi kontribusi penting memotivasi kajian lebih spesifik mengenai berbagai dimensi budaya Gayo pada masa-masa selanjutnya.
Sementara itu dikalangan masyarakat Gayo sendiri, terdapat beberapa penulis yang karyanya dikenal luas, diantaranya adalah A.R. Hakim Aman Pinan dan Drs. H. Mahmud Ibrahim.
Menurut salah seorang budayawan gayo, Husin Saleh yang juga merupakan ketua Majelis Adat Gayo dikatakan, sebagai entitas sosial yang dinamis, masyarakat Gayo mengkonstruksi kearifan lokal sebagai pandangan-dunia dalam memaknai realitas .
Kearifan lokal itu terangkum dalam konsep ¨ed¨et atau adat, yang meliputi praktik, norma, dan tuntutan kehidupan sosial yang bersumber dari pengalaman yang telah melalui proses islamisasi.
Wujud nya meliputi bahasa Gayo, sistem tata kelola pemerintahan (sarakopat), norma bermasyarakat (sumang), ekspresi estetik (didong), konsep nilai dasar budaya Gayo, dan lain-lain, ujarnya lagi.
Di tambahkan oleh Husin Saleh, Sistem nilai budaya Gayo menempatkan harga diri (mukemel) sebagai nilai utama. Untuk mencapai tingkat harga diri tersebut, seseorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai penunjang: tertip (tertib/patuh pada peraturan), setie (komitmen), semayang-gemasih (simpatik), mutentu (profesional), amanah (integritas), genap-mupakat (demokratis), alang-tulung (empatik). Untuk mewujudkan berkembangnya ke-tujuh nilai penunjang perlu nilai penggerak, yang disebut semangat kompetitif melakukan kebaikan, atau bersikekemelen.
Selain mukemel, tartib dan setie, ....dalam konsep kearifan lokal dalam adat dan budaya masyarakat gayo, ada juga aturan yang disebut semayang gemasih, mutentu,amanah , alang tulung dan genap mupakat.
Untuk mengaktualisasi sistim nilai-nilai budaya Gayo, Melalatoa (1982) mengungkapkan kemestian adanya nilai penggerak, bersikekemelen atau sikap kompetitif dalam mengamalkan ke tujuh nilai penunjang, dalam bahasa agama dikenal dengan prinsip berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Melalui nilai bersikekemelen, nilai-nilai lain akan lebih kokoh keberadaannya. Prinsip perlombaan dalam melakukan kebaikan ini mencakup pada upaya untuk meningkatkan martabat kehidupan, misalnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, perbaikan taraf ekonomi dan bahkan dalam mengamalkan ajaran agama.
Demikianlah dimensi kearifan lokal dalam masyarakat Gayo yang terangkum dalam nilai dasar budaya yang merepresentasikan filosofi, pandangan hidup dan karakter ideal yang hendak di capai, yang berbasis pada nilai-nilai yang Islami.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....