Konflik Timur tengah Picu Kenaikan Biaya Produksi Industri Rotan Trangsan

  • 06 Apr 2026 12:16 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sukoharjo - Konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada industri rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi pelaku usaha meningkat.

Pemilik usaha rotan sekaligus Ketua Pokdarwis Desa Trangsan, Suryanto, mengatakan dampak konflik global mulai terasa pada bahan penunjang produksi. Salah satunya adalah kenaikan harga material berbahan plastik.

“Sejak konflik itu, bahan-bahan seperti plastik mengalami kenaikan cukup signifikan,” katanya kepada rri.co.id, Senin 6 April 2026.

Ia menjelaskan, industri rotan tidak hanya menggunakan bahan alami, tetapi juga rotan sintetis yang bergantung pada bahan plastik. Kenaikan harga bahan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi.

Menurut Suryanto, lonjakan harga bahan penolong mencapai 20 hingga 30 persen. Hal ini menyebabkan harga pokok produksi meningkat dari perhitungan awal.

“Kalau bahan baku naik, otomatis harga pokok produksi juga ikut naik,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi ini berpotensi memengaruhi harga jual produk rotan di pasar ekspor. Pasalnya, pelaku usaha harus menyesuaikan harga agar tetap bisa menutup biaya produksi.

Namun hingga saat ini, dampak terhadap penjualan belum terlalu terasa. Suryanto menyebut kenaikan biaya masih dalam tahap awal dan pelaku usaha masih menunggu stabilitas harga.

“Dari segi penjualan belum terlalu terasa, tapi kenaikan biaya produksi sudah kami rasakan,” katanya.

Industri rotan Trangsan sendiri merupakan salah satu sentra kerajinan rotan terbesar di Indonesia. Sebagian besar produk dipasarkan ke luar negeri, seperti Amerika dan Eropa.

Dengan kondisi ini, pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan baku. Hal ini penting agar industri rotan tetap bertahan di tengah tekanan global. (Reza)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....