Mendag: Ekspor RI Tetap Tumbuh 2,19 Persen di tengah Konflik Global
- 02 Apr 2026 12:53 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, mengeklaim nilai ekspor nasional tetap mencatatkan pertumbuhan positif meskipun terjadi eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
Di tengah kebijakan proteksi yang dilakukan banyak negara untuk melindungi pasar domestik, kinerja perdagangan Indonesia justru menunjukkan ketangguhan yang signifikan. Budi mengungkapkan ketidakpastian kondisi geopolitik global tidak menghalangi pencapaian ekspor Indonesia pada dua bulan pertama tahun ini.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis, kinerja ekspor periode Januari hingga Februari dua ribu dua puluh enam mengalami kenaikan yang stabil. Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa produk-produk Indonesia masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional.
Mendag menilai peningkatan tersebut harus dijadikan pelecut semangat bagi para pelaku usaha bahwa peluang pasar global masih terbuka lebar, meskipun tantangan logistik dan rantai pasok sedang mengalami gangguan akibat peperangan.
“Berdasarkan data yang baru dirilis tanggal satu April kemarin, ekspor kita pada periode Januari-Februari tetap naik sebesar 2,19 persen," ujar Budi Santoso saat menghadiri acara di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis, 2 April 2026.
Pemerintah saat ini terus memantau pangsa pasar ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah yang berada di angka 3,49 persen dengan nilai mencapai 9,87 miliar dolar Amerika Serikat. Angka yang cukup signifikan tersebut menuntut Kementerian Perdagangan untuk terus memutar otak agar volume perdagangan tidak tergerus imbas konflik bersenjata.
Salah satu siasat utama yang kini tengah digenjot oleh pemerintah adalah melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pasar tujuan ekspor ke negara-negara nontradisional.
Diversifikasi pasar dinilai sebagai langkah strategis untuk mengisi kekosongan suplai di negara-negara yang terdampak krisis. Budi menyadari peta perdagangan dunia dapat berubah dalam sekejap mata ketika terjadi krisis geopolitik, mirip dengan situasi saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong para eksportir untuk lebih jeli melihat peluang emas di wilayah-wilayah yang tidak terdampak langsung oleh konflik guna menjaga stabilitas devisa negara.
"Ketika terjadi krisis geopolitik, peta perdagangan itu berubah dengan cepat. Di situlah kita mempunyai kesempatan emas untuk masuk dan mengisi kekosongan pasar tersebut," kata Budi.
Selain penetrasi pasar baru, langkah selanjutnya yang diambil pemerintah adalah memaksimalkan perjanjian-perjanjian dagang yang sudah terjalin selama ini. Melalui optimalisasi kesepakatan internasional, diharapkan hambatan tarif maupun non-tarif dapat ditekan serendah mungkin.
Upaya ini diharapkan mampu memberikan perlindungan sekaligus memperkuat posisi produk unggulan nasional agar tetap memiliki daya saing yang tangguh di tengah sengitnya kompetisi pasar global saat ini. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....