Kunjungan Tahir Solo Museum Capai 2.000 Orang Per Hari, Bapenda Soroti Potensi Pajak
- 10 Sep 2026 20:57 WIB
- Surakarta
RRRI.CO.ID, Surakarta – Tingkat kunjungan Tahir Solo Museum mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 orang per hari sejak resmi dibuka untuk umum. Tingginya jumlah pengunjung tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Surakarta karena berpotensi meningkatkan pendapatan daerah melalui Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT).
Hal tersebut terungkap saat Komisi II DPRD Kota Surakarta bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) melakukan inspeksi mendadak ke Tahir Solo Museum, Selasa, 8 September 2026. Selain memastikan kewajiban pajak, kunjungan tersebut juga melihat aktivitas museum yang baru mulai beroperasi.
Operational Manager Tahir Solo Museum Darryl Yusuf Putra mengatakan, rata-rata jumlah pengunjung museum saat ini berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 orang per hari. Jumlah tersebut dinilai masih stabil sejak museum resmi menerima pengunjung.
“Kita masih stabil ya. Kalau dirata-rata selama satu bulan itu kita kurang lebih sekitar di 1.500 sampai 2.000 pengunjung. Jadi kalau untuk sampai saat ini apakah ada peningkatan atau pengurangan, kita masih sama,” ucap Darryl.
Menurut Darryl, pengunjung berasal dari masyarakat umum maupun rombongan sekolah. Sementara untuk wisatawan mancanegara, pengelola masih melakukan promosi untuk memperluas jangkauan pengunjung.
“Untuk kunjungan sendiri kita ada beberapa. Pertama ada yang dari umum, lalu kita juga ada dari grup sekolah. Kalau mungkin dari negara lain kita masih proses untuk mempromosikan Tahir Museum ke negara lain,” katanya menjelaskan.
Kepala Bapenda Kota Surakarta Widyastuti Pratiwiningsih mengatakan, aktivitas komersial museum menjadi salah satu sumber potensi penerimaan pajak daerah. Salah satunya berasal dari tiket masuk museum yang dikenakan kepada pengunjung.
Tahir Solo Museum mematok tiket masuk sebesar Rp50 ribu untuk pengunjung dewasa dan Rp30 ribu untuk anak-anak. Dari transaksi tersebut, terdapat kewajiban PBJT sebesar 10 persen sesuai ketentuan yang berlaku.
“Karena ini kan bersifat komersial, di situ ada pajak barang jasa tertentu, PBJT. Yang pertama adalah terkait ditariknya tiket. Tiket Rp50 ribu untuk dewasa dan Rp30 ribu untuk anak-anak, sehingga nanti ada kewajiban pembayaran pajak hiburannya juga masuk ke pendapatan Kota Surakarta,” ucap Widyastuti.
Dengan jumlah pengunjung yang mencapai ribuan orang setiap hari, penerimaan PBJT dari tiket akan mengikuti jumlah transaksi yang terjadi. Semakin tinggi jumlah pengunjung, semakin besar pula potensi penerimaan pajak daerah dari aktivitas tersebut.
Widyastuti mengatakan potensi pajak tidak hanya berasal dari tiket masuk. Aktivitas usaha makanan dan minuman di dalam kawasan museum juga menjadi objek PBJT yang perlu diperhatikan.
“Yang kedua, di situ ada coffee shop ataupun juga mungkin untuk makan-minum. Nah, ini jelas itu masuk ke pajak makan-minumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta Agung Harsakti Pancasila mengatakan, tingginya aktivitas museum perlu diikuti dengan tertibnya pemenuhan kewajiban kepada pemerintah daerah. DPRD juga meminta keberadaan museum memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokal.
“Betul, karena kita juga penginnya kan ini berdiri di Solo. Jadi kita tekankan untuk dari SDM atau dari tenaga kerja kalau bisa dari Solo juga,” kata Agung.
Selain penyerapan tenaga kerja, DPRD mendorong keterlibatan pelaku UMKM lokal dalam aktivitas ekonomi di sekitar museum. Hal tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat keberadaan Tahir Solo Museum bagi masyarakat Kota Surakarta.
Di sisi lain, pengelola museum menyatakan operasional saat ini masih berjalan stabil. Pengembangan tahap berikutnya juga tengah disiapkan manajemen untuk menjaga daya tarik museum dan meningkatkan kunjungan masyarakat. (Ryan Assyidiqi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....