Operasional Museum Tahir Diperkirakan Rp900 Juta, Pemkot Optimistis Tambah PAD
- 10 Agt 2026 21:06 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Biaya operasional Museum Tahir di Kota Surakarta diperkirakan mencapai sekitar Rp900 juta per bulan. Pemerintah Kota Surakarta optimistis keberadaan museum dapat memberikan tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengatakan pengelolaan Museum Tahir akan diatur agar kondisi keuangannya tetap seimbang. Menurutnya, museum memiliki potensi menjadi destinasi wisata baru yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi Kota Surakarta.
"Ya nanti kita atur ya, pasti supaya bisa balance. Keuangannya bisa balance, bisa menjadi spot wisata yang baik, bisa jadi kerja sama yang baik. Saya kira itu nanti malah bisa mendapatkan tambahan PAD," kata Respati di Balai Kota Surakarta, Senin 10 Agustus 2026.
Respati menilai Museum Tahir tidak hanya memperkaya pilihan destinasi wisata di Kota Solo, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui pengelolaan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Perwakilan Yayasan Museum Tahir, Tjoe K. Sugiharto, menjelaskan angka Rp900 juta masih berupa estimasi karena operasional museum belum berjalan selama satu bulan penuh. Perhitungan tersebut mencakup kebutuhan listrik sekitar Rp250 juta per bulan serta biaya operasional lainnya.
"Kita kan belum jalan, kita enggak tahu. Mau bilang Rp100 juta atau Rp500 juta kan kita enggak tahu. Kita ambil angka aja Rp900 juta," ujarnya.
Tjoe menegaskan Pemerintah Kota Surakarta tidak mengeluarkan anggaran untuk membiayai operasional Museum Tahir. Seluruh biaya operasional menjadi tanggung jawab pengelola.
"Pemkot itu enggak keluarin duit sama sekali. Kalau ada yang bilang Pemkot keluar biaya segini-segini, ya audit saja, suruh BPK periksa," katanya.
Menurut Tjoe, operasional museum diharapkan dapat ditopang dari berbagai sumber pendapatan. Selain penjualan tiket masuk, pengelola juga menyiapkan pemasukan dari penyewaan ruang iklan, program pendidikan science, technology, engineering, and mathematics (STEM), hingga pendapatan parkir.
"Iya, yang diharapkan menambah PAD kan bukan cuma museum jual karcis saja. Kita ada dinding untuk iklan, kemudian ada program STEM yang juga banyak diminati anak-anak," ucapnya.
Tjoe mengatakan antusiasme masyarakat terhadap Museum Tahir cukup tinggi sejak dibuka. Pada dua hari pertama operasional tercatat sekitar 2.500 pengunjung, sedangkan pada hari biasa jumlah kunjungan berkisar 1.000 hingga 1.500 orang.
Ia menambahkan aktivitas Museum Tahir juga mulai memberikan dampak ekonomi bagi kawasan sekitar. Salah satunya melalui pemanfaatan lahan parkir di kawasan Pedaringan yang ikut menerima peningkatan aktivitas sejak museum beroperasi. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....