Siswa Sekolah Rakyat Meninggal, Bupati Sragen Evaluasi Layanan Kesehatan-Respons

  • 08 Sep 2026 16:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Kabar duka menyelimuti Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Sragen. Seorang siswi kelas XI A berinisial ANF, warga Desa Kedawung, Kabupaten Sragen, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada Minggu 6 September 2026. Almarhumah meninggal dunia usai mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan akibat sakit yang dialaminya.

Menanggapi insiden tersebut, Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan sistem penanganan kesehatan siswa, khususnya terkait penanganan dan respon cepat sekolah jika ada siswa yang sakit. Hal itu disampaikannya saat ditemui di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen, Selasa 8 September 2026.

Sigit menjelaskan bahwa tata kelola Sekolah Rakyat pada dasarnya berada di bawah naungan kementerian pusat. Namun, untuk pelayanan kesehatan dasar tetap memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di daerah.

"Berbagai kejadian yang ada di Sekolah Rakyat tentu kita sampaikan ke kementerian untuk diantisipasi," ujar Sigit.

Bupati menegaskan, standar pelayanan kesehatan di daerah sebenarnya sudah relatif bagus dan terintegrasi secara online, sehingga ketersediaan kamar di rumah sakit dapat dipantau secara langsung. Kendati demikian, dengan pola sekolah berasrama yang dihuni banyak siswa, prosedur penanganan darurat dan respon cepat fasilitas sekolah perlu terus ditingkatkan.

Guna mengantisipasi kejadian serupa, Bupati Sragen mengusulkan penyediaan klinik khusus serta keberadaan unit ambulans yang standby di lingkungan sekolah, khususnya SR Mondokan.

"Mestinya ada klinik khusus. Kalau siswanya sudah banyak, harus ada. Karena setiap hari biasanya ada keluhan dengan intensitas tinggi, maka harus ada," katanya menjelaskan.

Selain evaluasi pelayanan dan penanganan darurat di sekolah, Pemkab Sragen juga mengevaluasi aspek pemeriksaan kesehatan awal (screening) bagi para calon siswa baru sebelum masuk asrama.

"Untuk screening awal, cek kesehatan standar dan dasar tentu ada. Namun keberadaan fasilitas medis dan prosedur kedaruratan di lingkungan sekolah berasrama akan terus kita hitung dan evaluasi agar ke depan penanganan siswa sakit bisa lebih efektif," ujar Sigit.

Sebelumnya Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Sragen, Giyatno, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan langkah penanganan sejak gejala sakit dialami oleh siswi tersebut.

"Nggih, sakit. Pada Sabtu, siswi tersebut sudah kami periksakan melalui sekolah ke Puskesmas Mondokan," ujar Giyatno saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Giyatno menambahkan, penanganan berlanjut hingga Minggu pagi," katanya Senin 7 September.
"Minggu pagi 6 September 2026 dibawa lagi ke Puskesmas Mondokan untuk periksa, tetapi kondisi puskesmas penuh sehingga dirujuk ke Puskesmas Sukodono. Setelah dilakukan pemeriksaan di sana, siswi tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Sragen. Namun, siswi meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Sragen," katanya lagi menjelaskan. MI
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....