Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi Sragen Meninggal Dunia, Kepsek Buka Suara

  • 07 Sep 2026 17:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Seorang siswi kelas XI A Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Mondokan, Kabupaten Sragen, berinisial ANF dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soehadi Prijonegoro Sragen pada Minggu 6 September 2026. Siswi asal Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan tersebut mengembuskan napas terakhir usai sempat mengalami sakit dan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Sragen, Giyatno, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan langkah penanganan sejak gejala sakit dialami oleh siswi tersebut.

"Nggih, sakit. Pada Sabtu, siswi tersebut sudah kami periksakan melalui sekolah ke Puskesmas Mondokan," ujar Giyatno saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Giyatno menambahkan, penanganan berlanjut hingga Minggu pagi. "Minggu pagi 6 September 2026 dibawa lagi ke Puskesmas Mondokan untuk periksa, tetapi kondisi puskesmas penuh sehingga dirujuk ke Puskesmas Sukodono. Setelah dilakukan pemeriksaan di sana, siswi tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Sragen. Namun, siswi meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Sragen," katanya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Kedawung, Riki Antono, menegaskan bahwa tidak ada unsur perpeloncoan atau kekerasan fisik yang dialami siswi tersebut selama berada di asrama sekolah.

"Bukan (akibat kekerasan). Sakitnya memang sudah lama. Almarhumah memiliki riwayat penyakit hipertiroid sejak sebelum masuk sekolah, bahkan saat masih di Balai Latihan Kerja (BLK) dulu sudah sempat tiga kali dirawat di RS Amal Sehat," ujar Riki.

Riki menjelaskan, penderita hipertiroid idealnya menjalani pengobatan secara rutin tanpa terputus. Namun, korban diduga sempat berhenti mengonsumsi obatnya.

Sebelum dilarikan ke puskesmas hingga akhirnya dirujuk ke RSUD, korban sempat mengalami demam, batuk, dan pilek saat berada di asrama serta meminta izin untuk berobat dan pulang bersama keluarga.

"Di Puskesmas Sukodono sempat kejang, lalu dirujuk ke RSUD Sragen. Setelah mendapat perawatan di RSUD, almarhumah kejang lagi dan meninggal dunia," ucapnya.

Atas kejadian duka ini, Riki telah menyampaikan aspirasi langsung kepada pihak pengelola Sekolah Rakyat dalam forum diskusi yang digelar pasca-kejadian. Sebagai kepala desa asal almarhumah, ia meminta adanya evaluasi mendalam terkait fasilitas dan penanganan kesehatan bagi para siswa di asrama.

Ia menyoroti tingginya mobilitas siswa yang sakit setiap harinya, di mana hampir saban hari ada sekitar 5 hingga 10 siswa SR yang harus diantar berobat ke puskesmas.

"Kami minta ada evaluasi mendalam di bidang kesehatan. Kalau bisa, di dalam sekolah atau asrama didirikan klinik khusus dengan penanganan medis yang memadai. Mengingat anak-anak di sana tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan langsung orang tua," ucap Riki. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....